Rabu, 27 Juni 2012

KERJASAMA ORANG TUA dan GURU TERHADAP PEMBINAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMPN 1 KONDA KAB. KONAWE SELATAN


KERJASAMA ORANG TUA dan GURU TERHADAP PEMBINAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SMPN 1 KONDA KAB. KONAWE SELATAN

ABSTRAK
Salah satu permasalahan pokok dalam dunia pendidikan adalah bagaimana kerjasama antara orang tua dan guru dalam pembinaan pendidikan agama Islam itu penting, oleh karena itu kerjasama diperlukan pada setiap manusia dalam mewujudkan dan mensukseskan pendidikan karena merupakan acuan dalam kehidupan berbangsa dan negara. Namun dalam kegiatan tersebut tidak akan mungkin tercapai tanpa ada kerja keras dan kerjasama yang baik antara kedua belah pihak. Tapi namun demikian tidak terlepas dari kendala-kendala yang ditemukan jalan keluarnya.



Tujuan merupakan arah dan sasaran yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan, demikian juga penelitian ini tentu mempunyai tujuan untuk mengetahui urgensi kerjasama antara orang tua dan gurudalam pembinaan pendidikan agam Islam siswa SMPN 1 Konda , untuk mengetahui kendala-kendala apa yang ditemui oleh orang tua dan guru dalam pembinaan pendidikan agama Islam serta upaya penanggulangannya.
Temuan penelitian mengungkapkan bahwa kerjasama orang tua dan guru belumlah terlaksana secara sempurna, walaupun telah diupayakan dengan menggunakan dengan berbagai bentuk kerjasama, disamping kendala yang dihadapi sangatlah berfariasi yang dibutuhkan adalah penyelesaian  terhadap masalah tersebut. Sehingga orang tua memahami begitu pentingnya pembinaan pendidikan agama Islam itu sangatlah penting dalam membentuk sikap dan prilaku anak yang sesuai dengan ajaran Islam.
Kata-Kata Kunci: Kerjasama orang tua dan dalam pembinaan pendidikan agama Islam Siswa SMPN 1 Konda Kab. Konawe Selatan






BAB. I

PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Pendidikan bertujuan untuk membina anak kearah ke dewasaan supaya anak didik dapat memperoleh keseimbangan anatara perasaan dan akal budinya serta dapat mewujudkan dalam kehidupannya sehari-hari. Yang blebih khusus lagi pendidikan agama Islam mempunyai tujuan yang hampir sama dengan tujuan pendidikan Nasional di samping kecerdasan rasionalnya juga dengan kecerdasan relegiusnya.
Konsep ilmu pengetahuan dan pendidikan anak dikenal tiga komponen yang terlibat dalam upaya pembentukan kepribadian anak didik, yaitu : Keluarga, sekolah dan masyarakat. para ahli telah sepakat bahwa pendidikan agama Islam pada anak dalam keluarga merupakan dasar dalam pembentukan moral, karena keluarga merupakan pendidik utama. Disamping untuk mengefektifkan pekerjaan seorang guru untuk mengajarkan pendidikan agama Islam anak, maka terlebih dahulu memahami latar belakang pendidikan agama keluarganya. Anak didik yang orang tuanya kurang pendidikan keagamaannya maka akan mempengaruhi pula pemahaman agama anak. Sehingga sangatlah diperlukan kerjasama orang tua dan guru pendidikan agama agar anak lebih tertanam nilai-nilai pendidikan agama Islam sehingga dalam kepribadian dapat terpatri dalam kehidupan sehari-sehari. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah, sekolah hanya membantu kelangsungan pendidikan anak, karena pendidikan yang pertama dan utama diperoleh anak adalah pendidikan dari orang tuanya. Peralihan bentuk pendidikan jalur luar sekolah ke jalur pendidikan formal memerlukan kerjasama antara orang tua dan guru di sekolah.
  1. Identifikasi masalah.
Secara umum masalah penelitian ini di identifikasi dalam bentuk pertanyaan, sebagai berikut: (1) Apakah kerjasama orang tua dan guru urgen dalam membina pendidikan agama Islam siswa SMPN 1 Konda (2) Bagaimana bentuk kerja sama orang tua dan guru terhadap pembinaan pendidikan agama Islam siswa SMPN 1 Konda.


BAB. II
KAJIAN PUSTAKA
  1. Deskripsi Kerjasama orang tua dan guru di Sekolah.
Sebelum penulis menguraikan pengertia kerjasama orang tua dan guru, kerjasama artinya melakukan sesuatu kegiatan yang serupa atau tidak berbeda, tidak berlainan (Trisno Yuwono Pius Abdullah, 1994: 24). Dari pengertian tersebut penulis menyimpulkan bahwa kersama adalah melakukan suatu kegiatan yang serupa secara bersama-sama atau berkelompok, bahwa kerjasama yang dimaksud adalah antara orang tua dan guru dilakukan di sekolah secara bersama-sama dalam rangka pembinaan pendidikan agama Islam agar anak didik dapat menjadi kontrol dalam kegiatan belajar mengajar di rumah maupun di sekolah. Dalam hal ini sesuai dengan pendapat Raja mudiharjo, mengatakan: pendidikan mengupayakan adanya kerja sama antara guru dan orang tua dalam rangka menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk dapat terekspresikan secara alamiah semua minat dan kegiatan yang diperlukan.(Radja Mudiharjo , 2001:146).
Dari pernyataan tersebut bahwa kerja sama orang tua dan guru bukanlah hanya untuk bersama-sama mengontrol kegiatan kegiatan anak didik saja, tetapi diharpakan dalam kerja sama tersebut dapat menciptakan kesempatan kepada anak untuk menyalurkan seluruh potensi  yang dimilikinya. Hal ini berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistim pendidikan nasional dijelaskan bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dan bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk perkembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab (UU.No.20 Tahun 2003: 8).
Prilaku atau sikap anak didik di lingkungan sekolah baik terhadap teman maupun terhadap guru terutama dalam kreatifitas dan minat anak didik dipengaruhi oleh sikap dan prilaku ditanamkan oleh sikap dan prilaku yang ditanamkan oleh keluarga khususnya orang tua sebagai pendidik utama dan pertama. Dalam hal ini dibutuhkan kepercayaan orang kepada guru di sekolah agar dapat membentuk pribadi anak dalam pergaulan di lingkungan sekolah. Oleh karena itu sangatlah berarti untuk menjadi perhatian khusus, karena pada akhir-akhir ini sering terjadi tindakan-tindakan yang tidak terpuji yang dilakukan oleh anak didik, sementara orang tua sering melimpahkan kesalahan itu kepada sekolah. Oleh karena itu, dibutuhkan komunikasi antara orang tua dan guru di sekolah agar dapat bekerja sama dengan baik dan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.
  1. Tugas dan Kewajiban Orang Tua dan Guru            
  1. Tugas dan Kewajiban Orang Tua
Adapun tugas dan kewajiban orang tua yakni:
a.       Menggali dan engembangkan potensi yang ada pada diri anak sehingga perkembangannya yang secara optimal.
b.      Tugas orang tua bukan melarang atau memerintah, akan tetapi lebih mengarahkan agar mereka tetap berada pada jalur yang sebenarnya.
c.       Mengarahkan, membimbing, membantu dalam pembinaan dan pengembangan sesuai potensi yang dimiliki.
d.      Memelihara dan memberi bekal ilmu pengetahuan agama.
Jika anak sering mendapat perlakuan dan kekerasan yang tidak sesuai dengan norma-norma kemanusiaan, yang didapatkan dari orang tuanya maka secara tidak langsung akan  dan melakukan pula kekerasan pada orang lain. Pada akhirnya kesadaran orang tua untuk meluangkan waktunya utnuk mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang akan mampu membimbing dan mengarahkan generasi muda menjadi insan yang mandiri dan bertanggung jawab.
  1. Tugas dan kewajiban Guru.
Adapun tugas dan kewajiban guru dengan mengajar yakni membuat persiapan mengajar, mengevaluasi hasil belajar. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh guru antara lain:
a.       Wajib melakukan penemuan atas pembawaan yang ada pada diri anak didik dengan berbagai cara seperti observasi, wawancara, angket dan sebgainya.
b.      Berusaha menolong anak didik mengembangkan pembawaan yang baik dan menemukan pembawaan yang buruk agar tidak berkembang.
c.       Memperlihatkan kepada anak didik tugas orang dewasa dengan cara memperkenalkan dengan berbagai bidang keahlian, keterampilan, agar anak didik memilihnya dengan tepat.
d.      Mengadakan evaluasi setiap waktu untuk mengetahui apakah perkembangan anak didik secara baik.
e.       Memberikan bimbingan dan penyuluhan tatkala anak didik menemui kesulitan dalam mengembangkan potensinya. (Ahmad Tafsir, 2005: 78-79).   
  1. Hakikat Pembinaan Pendidikan Agama Islam pada anak Didik
Setiap pendidik (orang tua dan guru), hendaknya menyadari bahwa pendidikan agama Islam bukanlah sekedar pengetahuan agam dan melatih keterampilan anak dalam melaksanakan ibadah, akan tetapi pendidikan agama Islam jauh lebih luasdari pada  itu. Pendidikan agama Islam bertujuan membentuk kepribadian anak, sesuai dengan ajaran Islam, pembinaan sikap,mental dan akhlak, jauh lebih penting daripada manghafal dalail dan hukum-hukum agama yang tidak diserapdan dihayati dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan agama Islam hendaknya dapat mewarnai kepribadian anak, sehingga pendidikan agama Islam itu benar-benar menjadi bagian dari pribadinya yang akan menjadi kendali dalam hidup dikemudian hari. Oleh karena itu, maka pendidikan agama Islam hendaknya diberikan oleh para pendidik (orang tua dan guru) yang benar-benar mencerminkan ajaran Islam dalam sikapnya, tingkah laku, gerak gerik, cara berpakaian dan cara berbicara dengan orang yang lebih tua atau sebaya dengannya.
Pendidikan agama Islam dapat membicarakan manusia seutuhnya, ia hanya membekali anak dengan pengetahuan agama atau mengembangkan kecerdasan anak saja, akan tetapi menyangkut keseluruhan pribadi anak. Yang berawal dari kebiasaan melakukan kebaikan yang sesuai dengan tuntnan agama Islam, baik yang menyangkut hubungan manusia dengan sesamanya maupun hubungan dengan Allah swt, serta alam sekitarnya.
Zakiah daradjat mengatakan: ajaran Islam yang di peroleh melalui pendidikan agama islam itu akan lebih baik dan lebih berkesan serta berdaya guna apabila seluruh lingkungan hidup yang ikut mempengaruhi pembinaan pribadi anak (keluarga, sekolah dan masyarakat), sama-sama mengarah opada pembinaan jiwa agama anak, kearah pendidikan yang dilalui anak dalam umur pertumbuhan, akan sangat membantu perkembangan dan pribadi anak. (Zakiah Daradjat, 1977: 128).
Dari pernyataan tersebut diatas, sangatlah jelas bahwa dalam upay pembentukan kepribadian anak yang sangat tepat adalah penanaman ajaran Islam melalui pendidikan agama itu sangat penting bagi kehidupan anak, atau dengan kata lain agar anak memiliki akhlak yang mulia serta berbudi pekerti luhur, maka yang pertama dipacu adalah bagaimana anak memahami, mengamalkan ajaran Islam melalui pendidikan agama diberikan oleh orang tua dan gurunya. Disamping pendidikan agama Islam itu dapat memberikan andil yang sangat berharga dalam pembentukan harkat dan martabat umat manusia yang didapatkan dari orang tuanya, karena anak adalah merupakan obyek paling utama, karena dalam mendidk itu dibutuhkan uasaha-usaha yang maksimal dalam rangka memanusiakan manusia baik yang berlengsung dalam rumah tangga maupun di lingkungan sekolah. Hal ini sesuai dangan ajaran yang dilakukan oleh Lukmanul Hakim seperti yang diabadikan dalam al-Qur’an (Q.S. Luman: 17)
¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ
Artinya: Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah ( manusia ) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuklah hal-hal yang diwajibkan oleh Allah swt.
            Dari ayat tersebut menjelaskan kepada orang tua atau pendidik agar menyuruh anak-anaknya melaksanakan ibadah sebagai kewajiban yang pertama dalam membentuk dirinya, karena bagaimanpun juga tidak terlepas identitas sebagai seorang muslim yang selalu bersabar I diharapkan agar anak dalam melakukan sesuatu yang baik dan mencegah kepada kemungkaran. sebagai upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru sebagai bentuk kepedulian terhadap anak didik dalam membentuk akhlak dan prilaku anak didik yang sesuai dengan ajaran Islam.
  1. Pembinaan Akhlak
Akhlak yang berarti perangai, tabiat, adab, khalkun yang berarti kejadian, buatan, atau sistem prilaku yang dibuat (Chalidjah Hasan, 1995: 186). Jadi akhlak adalah usaha untuk  menjadikan perangai dan sikap yang baik sebagai watak seseorang anak, dengan adanya pembinaan akhlak ini diharapkan agar anak didik menjadi lebih terarah dalam bertindak dan berprilaku. Pembinaan serta pembentukan akhlak juga merupakan tujuan utama dalamm pendidikan Islam. (Athiyah al-Abrasyi, 1993: 10). Pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam dan bahwa mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya. (Omar al-Toumy al-Syaibany, 1997: 146). Dari pendapat tersebut menjelaskan bahwa pendidikan akhlak adalah merupakan tujuan pendidikan yang harus dicapai sebagai awal pembentukan diri pribadi muslim agar tercapai tujuan pendidikan  yang sebenarnya.
Secara garis besar akhlak digolongkan menjadi dua yaitu akhlak mahmudah dan akhlak mazmumah. Akhlak mahmudah adalah segala macam sikap dan tingkah laku yang baik. Sedang akhlak mazmumah adalah segala macam sikap dan tingkah laku yang tercela. Sikap seperti ini adalah perbuatan yang sering timbul dikalangan manusia seperti egois, dusta, khianat, pemarah, sombong dan lain sebagainya. (H.A.Mustafa, 1997: 198).
  1. Pembinaan budi pekerti dan sopan santun.
Budi pekerti yang baik adalah mengatakan atau melakukan sesuatu yang terpuji, atau bisa juga disebut dengan perangai yang baik ( H. Hadari Nawawi, 1993: 219)
Dalam pelaksanaan pendidikan akhlak tearhadap anak didik,pendidikan akhlak yang tepat digunakan tentunya akhlak mahmudah selain membuntuk pribadi muslim yang taat,juga dapat membentuk pola dan tingkah laku yang baik dalam kehidupan sehari-hari,berikut contoh-contoh akhlak mahmudah diantaranya :
a.       Pembinaan budi pekerti dan sopan santun
Budi pekerti adalah mengatakan atau melakukan sesuatu yang terpuji,atau  bisa juga di sebut dengan perangai yang baik.( H. Hadari,1993: 219). Dalam binaan budi pekerti ini dibutuhkan perhatian yang besar dari orang tua tehadap anaknya,dengan mulai melakukan kebiasaan yang baik dalam berperilaku dan berbicara khususnya dalam lingkungan keluarga dan kebiasaan-kebiasaan yang baik pula harus di lakukan secara umum dalam arti di lakukan dengan tidak jemu-jemunya.
b.      Pembinaan bersikap jujur
Bersikap jujur merupakan dasar pembinaan akhlak yang sangat penting dalam ajaran Islam,terutama terhadap pembinaan anak sejak usia dini,di mulai dengan melarangnya berbicara kasar,berbicara dengan kata-kata yang tidak pantas (berbicara kotor),karena itu adalah pebuatan orang-orang yang sesat,sebagaimana firman Allah QS.An-Nahl (16) : 105 yang berbunyi :
$yJ¯RÎ) ÎŽtIøÿtƒ z>És3ø9$# tûïÏ%©!$# Ÿw šcqãZÏB÷sムÏM»tƒ$t«Î/ «!$# ( y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqç/É»x6ø9$# ÇÊÉÎÈ
Yang artinya : Sesungguhnya manusia yang mngada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah.(Al-Qur’an dan terjemahannya : 280)
            Dari ayat di atas dijelaskan bahwa dalam ajaran Islam menganjurkan kepada kita untuk selalu berkata jujur,jadi sikap jujur pun sangat perlu dalam pembinaan akhlak anak.
c.       Pembinaan menjauhi sifat dengki
Dengki merupakan sifat tercela,merusak fisik dan agama,oleh karena itu Allah menyuruh kita untuk memohon perlindungan dari bahaya dengki. Allah SWT berfirman dalam QS.Al-Falaq (113) : 5 yang berbunyi :
`ÏBur Ìhx© >Å%tn #sŒÎ) y|¡ym ÇÎÈ


Yang artinya : dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki
Dari ayat tersebut mengisyaratkan pada manusia agar menjauhi sifat dengki,hal tersebut dapat menjadi acuan terhadap pendidik dalam membina anak-anaknya,dimulai dengan memberikan pengetahuan bahwa rasa iri atau dengki itu dapat merugikan dir sendiri,terutama dapat merusak hati dan jiwa kita,ini merupakan salah satu bentuk pembinaan akhlak,yang menjadi sasaran orang tua terhadap anaknya. Ini dimaksudkan agar sifat ini dapat terhindar atau hilang dari dalam diri anak. Karena hilangnya sifat dengki dalam jiwanya,anak akan memiliki pribadi yang luhur. Hatinya akan selalu lapang dalam menerima berbagai bentu ujian dan selalu tegar dari gangguan penyakit hati orang-orang yang berada di sekitarnya.(Muhammad Nur Abdul Hafizh,1997 : 179-189)
  1. Pembinaan Aqidah
Aqidah merupakan kepercayaan atau keyakinan yang harus ditanamkan dalam diri anak,salah satunya yaitu menanamkan kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya mengajarkan al-Qur’an dan menanamkan nilai-nilai perjuanagn serta pengorbanan pada mereka.(ibid : 109)
Dari pernyataan tersebut diatas menjelaskan bahwa dalam membina anak,senantiasa orang tua dapat memberikan pengetahuan tentang pejuangan Rasulullah dan mencintai Allah dengan cara mendirikan shalat,berzakat dan percaya akan datangnya hari akhir. Seperti firman Allah dalam QS. luqman (31) : 4 yang berbunyi :


Yang artinya : Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat,menunaikan zakat,dan mereka yakin dengan adanya negri akhir.(Op. cit QS. al-luqman,4 : 412)
            Pendidikan aqidah hendaknya dapat mewarnai kepribadian anak,sehingga pendidikan aqidah itu benar-benar menjadi bagian dari pribadinya yang akan menjadi kendali dalam hidup dikemudian hari.


BAB III
                                            METODE PENELITIAN
  1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yakni penelitian yang menggambarkan atau mendeskripsikan data-data dari lapangan dalam bentuk-bentuk kata,menurut Husaimi Usman mengemukakan bahwa penelitian kualitatif berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu.(Husaimi Usman,1995 : 81)
Dari pernyataan di atas terlihat bahwa penelitian kualitatif ini bermaksud untuk bagaimana kita dapat memahami tingkah laku manusia dan menafsirkan suatu peristiwa. Penelitian ini bermaksud mempelajari secara interaksi suatu sosial,individu,kelompok,lembaga dan masyarakat.(ibid : 5)
  1. Tekhnik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data ini,penulis menggunakan tekhnik sebagai berikut :
1.      Observasi (pengamatan),yaitu tekhnik pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung pada orang tua siswa dan guru SMP Negeri 1 Konda,kemudian menarik kesimpulan
2.      Interview(wawancara),yaitu tekhnik pengumpulan data dengan cara mengadakan wawancara kepada pihak-pihak yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan.
3.      Dokumentasi,yaitu tekhnik pengumpulan data dengan cara mengambil data-data dari dokumen yang ada dalam rangka mendapatkan informasi yang lengkap dan menyeluruh.
  1. Analisis Data
Agar mendapatkan data yang valid,dan cocok untuk disajikan dengan urgensi kerjasama orang tua dan guru dalam Pembinaan Pendidikan Agama Islam Siswa di SMPN 1 Konda,penulis menganalisi data-data yang telah diperoleh dari lapangan dengan menggunakan tekhnik sebagai berikut :
1.      Reduksi data,yaitu data-data yang dikumpulkan akan dipelajari,ditelaah,kemudia dirangkum kemudian dipilih hal-hal yang merupakan pokok dan inti data yang dibutuhkan.
2.      Display data,yaitu setelah direduksi,maka peneliti melakukan display data dalam bentuk uraian singkat,bagan,hubungan antar kategori,flawchart,dan sejenisnya. Dengan menyajikan data,akan memudahkan peneliti memahami apa yang terjadi,merencanakan ktifitas selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami tersebut.
3.      Verifiksi data atau kesimpulan,langkah ketiga yang dilakukan adalah verifikasi data atau penarikan kesimpulan. Dimana kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara,dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya,valid,dan konsisten. Dalam mengumpulkan data,maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang krebidel(Sugiono,2005 : 99)
  1. Pengecekan Keabsahan Data
Untuk menghindari adanya data yang tidak valid,maka penulis mengadakan keabsahan data dengan menggunakan tekhnik trianggulasi,yaitu tekhnik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar dari data yang ada untuk kepentingan pengecekan atau sebagai bahan pembanding terhadap data yang ada. Densin membedakan empat macam trianggulasi sebagai teknik pemeriksaan keabsahan data yaitu sumber,metode,penyidik dan teori.(Lexi J Moleong,1988 : 190). Hal ini menjaga jangan sampai ada pihak informan yang memberi informasi yang tidak relevan dari pembahasan tersebut. Triaggulasi dengan menggunakan sumber,berarti membandingkan  dan mengecek kembali derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda,trianggulasi dengan menggunakan metode dapat dilakukan dengan cara :
1.      Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2.      Membandingkan data apa yang dikatakan orang di depan umum dan apa yang dikatakan secara pribadi.
3.      Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang dalam situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.
4.      Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan pendapat dan pandangan orang.
5.      Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang releven dengan hasil penelitian(ibid : 178)











BAB. IV
HASIL PENELITIAN
  1. Deskripsi Data
  1. Pertumbuhan dan Perkembangan SMPN 1 Konda
Sekolah menengah pertama (SMP) Negeri 1 Konda merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran pada tingkat  menengah pertama.
      Secara geografis,SMPN 1 Konda memiliki tempat yang strategisskarena terletak di pusan kecamatan konda yang mudah dijangkau baik dengan kendaraan maupun dengan berjalan kaki. Tersedianya transportasi dan fasilitas jalan yang sangat baik (jalan aspal) memudahkan siswa dan guru yang tempat  tinggalnya jauh dari sekolah dapat belajar dan mengajar tanpa mengalami hambatan untuk beraktifitas di sekolah tersebut.
  1. Keadaan Sarana dan Prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang secara langsung digunakan dalam pelaksanaan pendidikan seperti fisik gedung,.fasilitas belajar,ruang guru,ruang siswa dan sebagainya,sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang tidak secara langsung di gunakan dalam proses belajar mngajar. Seperti taman sekolah,peraturan sekolah,situasi belajar,pekarangan dan sebagainya.
  1. Keadaan Guru, Siswa dan Orang tua.
a.      Keadaan Guru
Guru merupakan salah satu faktorpendidikan yang bertugas secara profesional mendidik dan mengarahkan anak didik kearah pertumbuhan dan perkembangan moral dan intelektual sehingga menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab dan berkepribadian yang luhur serta berakhlak mulia. Mengingat peranan guru amat penting dalam pendidikan dan pengajaran,maka keberhasilan siswa,pendidikan dan pengajaran di sekolah sangat tergantung pada guru. Sebab tidak semua orang mau menjadi guru,karena beban yang dipikulnya itu sulit dijangkau.
Bagi guru SMPN 1 Konda,mengsjsr merupakan bagian dari hidup yang perlu ditekuni dan dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.
Kami sebagai guru disini merupakan bagian dari hidup kami,karena dalam saya mengajar disini sudah 20 tahun,selama saya mengajar banyak suka maupun duka yang saya alami,namun semua itu adalah tanggung jawab saya sebagai seorang guru dalam mentransferkan ilmu saya sebagai seorang pendidik.(Sailan S.Pd,)
            Dari uraian di atas penulis lebih mendalam lagi behwa seorang guru walaupun tidak  mendapatkan apa-apa dari pekerjaannya harus tetap melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik.
b.      Keadaan Siswa
Siswa atau anak didik merupakan salah satu faktor pendidik yang tidak bisa di gantikan oleh faktor lain. Erat kaitannya dengan faktor itu,pada SMP Negeri 1 Konda siswanya terdiri dari bermacam-macam suku antara lain Tolaki,Jawa,Bugis,dan lain-lain,siswa SMP Negeri 1 Kondasaat ini tercatat 572 siswa yang terdaftar mengikuti proses belajar mengajar,yang terbesar di tiga kelas,lebih jelasnya tentang keadaan siswa di SMP Negeri 1 Konda dapat dilihat dari tabel berikut :
                                                            Tabel 3
                                    Keadaan Siswa SMP Negeri 1 Konda
No
Kelas
Jenis kelamin
Jumlah
Laki-laki
Perempuan
1
VII.1
22
26
48

VII.2
25
23
48

VII.3
23
25
48

VII.4
20
28
48
2
VIII.1
20
24
44

VIII.2
23
21
44

VIII.3
22
22
44

VIII.4
20
25
45
3
IX.1
29
22
51

IX.2
21
29
50

IX.3
27
24
51

IX.4
26
25
51
Total
278
304
572

Sumber Data : Kantor SMPN 1 Konda
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa jumlah siswa SMP Negeri 1 Konda berdasarkan jenis kelamin terdiri dari 278 orang laki-laki dan 294 orang perempuan. Adapun jumlah siswa menurut kelas yaitu kelas VII 1 berjumlah 48 orang yang terdiri dari 22 orang laki-laki dan 26 perempuan,kelas VII 2 berjumlah 48 orang yang terdiri dari 25 orang laki-laki dan 23 orang perempuan,kelas VII 3 berjumlah 48 orang yang terdiri dari 23 orang laki-laki dan 25 orang perempuan,dan kelas VII 4 yang berjumlah 48 orang yang terdiri dari 20 orang laki-laki dan 28 orang perempuan,sehingga jumlah keseluruhan kelas tujuh adalah 192 yang terdiri 90 orang laki-laki dan 102 perempuan.
Selanjutnya jumlah siswa untuk kelas VIII yaitu kelas VIII 1 yang berjumlah 44 orang yang terdiri dari 20 orang laki-laki dan 24 orang perempuan,kelas VIII 2 yang berjumlah 44 orang yang terdiri dari 23 orang laki-laki dan 21 orang perempuan,kelas VIII 3 yang berjumlah 44 orang yang terdiri dari 22 orang laki-laki dan 22 orang perempuan,dan kelas VIII 4 yang berjumlah 45 orang yang terdiri dari 20 orang laki-laki dan 25 orang perempuan,sehingga jumlah keseluruhan kelas VIII adalah 177 yang terdiri dari 85 orang laki-laki dan 112 orang perempuan.
Kemudian jumlah siswa untuk kelas IX yaitu kelas IX 1 yang berjumlah 51 orang yang terdiri dari 29 orang laki-laki dan 22 orang perempuan,kelas IX 2 yang berjumlah 50 orang yang terdiri dari 21 orang laki-laki dan 29 orang perempuan,kelas IX 3 yang berjumlah 51 orang yang terdiri dari 27 orang laki-laki dan 24 orang perempuan, kelas IX 4 yang berjumlah 51 orang yang terdiri dari 26 orang laki-laki dan 25 orang perempuan,sehingga seluruh kelas IX yaitu 203 yang terdiri dari 103 laki-laki dan 100 perempuan.
c.       Keadaan orang tua siswa
Mengingat peran dan fungsi orang tua sangat penting di dalam pendidikan agama anak di lingkungan keluarga,maka keberhasilan dalam kerjasama dengan guru dalam pembinaan pendidikan agama Islam anak sangat bergantung pula pada peran serta orang tua tersebut.
  1. Temuan penelitian
1.      Bentuk-bentuk kerjasama dalam pembinaan pendidikan Agama pada anak
Dalam usaha mengembangkan mutu pendidikan agama anak,dibutuhkan adanya kerjasama antara orang tua dan guru telah dijelaskan pada bab sebelumnya mengenai kerjasama. Pekerjaan guru (pendidik) di sekolah akan lebih efektif apabila,guru mengetahui latar belakang anak didiknya,anak didik yang kurang maju dalam pelajaran. Berkat kerjasama orang tua dan guru di sekolah kekurangan anak didik banyak diatasi,banyak cara yang ditempuh untuk menjalin kerja sama antara orang tua dan guru di sekolah.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru di sekolah yakni :
a)      Adanya kunjungan ke rumah anak didik
b)      Diundangnya orang tua ke sekolah
c)      Case Conferense
d)     Badan pembantu sekolah
e)      Adanya surat menyurat
f)       Adanya daftar nilai atau raport.(Hasbullah,2005 : 91-94)


F Adanya kunjungan ke rumah anak didik
            Pelaksanaan kunjunga ke rumah anak didik ini berdampak sangat positif karena dalam kunjungan ini dapat memberikan motifasi kepada orang tua dan anak didik untuk lebih terbuka dapat bekerjasama dalam menyelesaikan masalah-masalah yang sedang di alami antara orang tua dalam mendidik anak .
F Diundangnya orang tua ke sekolah
            Dalam hal ini orang tua diberi kesempatan untuk dapat ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dalam sekolah seperti kegiatan-kegiatan perlombaan yang mendemonstrasikan kebolehan-kebolehan anak dalam berbagai bidang.
F Case Conferse
            Case Conferse merupakan rapat atau konferensi tentang kasus biasa dilakukan dalam bimbingan dan konseling di mana pesertanya adalah orang yang benar-benar mau membicarakan masalah anak didiknya dan bertujuan mencari jalan yang paling tegar agar masalah anak didik dapat diatasi dengan baik.
F Badan pembantu sekolah
            Badan pembantu sekolah ini adalah organisasi orang tua murid atau wali murid atau guru,sekarang organisasi ini telah beberapa kali mengalami perubahan nama karena disesuaikan dengan perkembangan situasi pendidikan,pertama persatuan orang tua murid dan guru (POMG),kemudian persatuan orang tua murid (POM) kemudian badan pembantu penyelenggaraan pendidik atau (BP3) dan sekarang di kenal dengan komite sekolah.
F Adanya surat menyurat
            Surat menyurat ini dimaksudkan agar pada waktu-waktu tertentu seperti peringatan dari guru kepada orang tua jika anaknya bermasalah di sekolah.
F Adanya daftar nilai atau raport
            Raport ini biasanya di berikan pada setiap akhir semester kepada para siswa ini dapat di pakai sebagai penghubung antara guru di sekolah dan orang tua siswa.
                        Guru dapat memberikan peringatan kepada orang tua terhadap nila-nilai siswa yang kurang baik atau mungkin sebaliknya memberi penguatan kepada orang tua agar selalu mendukung anak didiknya dalam meraih prestasi.
2.      Kendala-kendala yang dihadapi dalam pembinaan pendidikan agama pada anak.
Dari uraian masalah pembinaan pada pembahasan sebelumnya,dapat diketahui bahwa orang tua dan guru mempunyai peranan penting dalam membina agama Islam anak. Pendidikan agama Islam adalah proses dan aktivitas yang bertujuan untuk menghasilkan perubahan yang dikehendaki dalam diri seseorang terutama anak didik ia juga merupakan proses menjaga dan  memelihara  sifat-sifat yang dimiliki oleh anak didik serta bakat dan kebolehan yang mereka miliki.
     Mengingat hal tersebut sudah tidak asing lagi bahwa dalam pendidikan khususnya dalam membina terdapat banyak kendala yang disebabkan oleh keadaan pendidik itu sendiri maupun dari pembawaan anak itu sendiri serta dari lingkungannya. Adapun kendala-kendala yang di maksud yang akan dibahas disini adalah.
a.      Kendala dalam lingkungan keluarga
Kurangnya perhatian orang tua sebagai pendidik yang pertama dan yang utama khususnya dalam lingkungan keluarga,mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap pendidikan agama anak dalam hal pembinaan,orang tualah yang mempunyai kewajiban untuk membentuk sikap dan perilaku anak agar menjadi anak yang patuh kepada ajaran agama dan patuh kepada kedua orang tua, namun banyaklah orang tua yang hanya mengharapkan pendidikan disekolah sebagai pendidikan utama ini didasarkan oleh aktivitas orang tua di luar rumah yang sangat menyita waktu seperti seorang bapak bekerja untuk mencari nafka keluarganya, terkadang juga seorang ibu mencari nafkah untuk anak dan sekaligus membantu suaminya untuk mencari nafkah.
Sejalan dangan hal itu pula kehidupan keluarga yang tidak harmonis menjadi salah satu kendala dalam lingkungan keluarga, ketidak harmonisan antara orang tua tersebut menjadi pemicu anak untuk berbuat semaunya di luar batas sehingga kesalahan yang mereka lakukan akan mendapat sanksi dari orang tua seperti penindasan, yang menyiksa anaknya dengan pemukulan yang menyakiti perasaan dan kerugian kesehatan anaknya. Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari tugasnya sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga, karena merupakan pendidikan awal bagi perkembangan perilaku anak.bahwa segala kesalahan anak-anak itu adalah akibat dari perbuatan pendidik-pendidiknya terutama orang tua pada zaman itu dipandangnya sebagai penindas yang menyiksa anaknya dengan dengan pukulan yang merugikan kesehatannya dan menyakiti perasaannya, kehormatannya. Disamping itu pula banya para orang tua yang mengharapkan anak-anaknya menjadi norang yang berkuasa menjadi sukses dalam masyarakat namun itu hanya tidak sesuai dengan harapan anak tersebut, sehingga banyak dari anak didik tidak merasa bersemangat dalam melanjutkan pendidikan di sekolah sehingga banyak pula dari mereka tidak mau melanjutkan pendidikan yang mengakibatkankekecewaan terhadap orang tua. Ini dikarenakan kurangnya perhatian orang tua dalam melihat bakat dan kemampuan anak-anaknya, sehingga dibutuhkan perhatian khusus bagi orang tua untuk membeina dan mendidik anak-anaknya dalam hal ini bukan anak yang menyesuaikan diri dengan cita-cita orang tua melainkan sebaliknya. Pendidikan keluarga atau orang tua penting sekali, ia juga menunjukkan betapa besar pengaruh lingkungan alam sekitarnya terhadap pertumbuhan dan pendidikan anak-anaknya. (Ngalim Purwanto, 2003: 80)
Seorang bpenganut aliran Philantropinum, oleh para orang tu. Salzman mengatakan
Kekerasan dalam lingkungan keluarga,keadaan tiap-tiap keluarga tentu berlainan-lainan antara satu dengan yang lainnya,sebagian keluarga membina pendidikan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang,lemah lembut ada yang mendidik anak-anaknya dengan kekerasan dan lain sebagainya.
b.      Kendala dalam lingkungan sekolah
Pada umumnya,kita telah mengetahui bahwa sekolah merupakan pendidikan kedua setelah keluarga. Sekolah adalah buatan manusia,sekolah juga didirikan oleh masyarakat atau negara untuk membantu keluarga dalam hal mendidik dan membina anak dan mempersiapkan anak agar hidup dengan cukup bekal kepandian dan kecakapannya walaupun aktifitas sekolah juga kadang terlambat dalam hal pembinaan pendidikan khusunya pendidikan agama Islam anak yang diakibatkan oleh beberapa faktor yakni pegaulan disekolah lebih terbatas diakibatkan oleh beberapa faktor yakni pergaulan di sekolah lebih terbatas diakibatkan karena adanya ketertiban dan peraturan-peraturan tertentu yang harus dijalankan oleh tiap-tiap murid dan guru         
     Dari beberapa penjelasan di atas,berikut ini akan dijelaskan beberapa kendala dalam hal pembinaan agama anak didik disekolah, guru sebagai pendidik dalam lingkungan sekolah yang bertugas sebagai pengajar, memberikan berbagai macam ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada anak disamping juga membina agar anak memiliki budi pekerti yang baik. Pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan yang mulia, baik dipandang sebagai abdi masyarakat maupun sebagai abadi negara. Seorang pendidik haruslah memiliki kemampuan kesabaran dan memberikan perhatian dalam hal pembinaan anak didik, karena berdasarkan kenyataan bahwa sebahagian besar guru barmasa bodoh melihat permasalahan yang ada disekolah. Guru seakan menutup mata dalam hal pembinaan akhlak anak padahal sesungguhnya sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk membentuk pribadi mereka menjadi pribadi yang muliah.
3.      Bentuk-bentuk Pembinaan.
Pembinaan pendidikan agama Islam tidak terlepasa dari beberapa aspek anatara lain :

  1. Pembinaan Sopan santun   
Budi pekerti adalah melakukan sesuatu yang terpuji, atau bisa juga disebut dengan perangai yang baik (H. Hadari Nawawi, 1993: 219). Dalam pembinaan budi pekerti ini dibutuhkan perhatian yang besar dai orang tua terhadap anaknya atau guru di sekolah, dengan memulai melakukan kebiasaan yang baik harus dilakukan secara umum dalam artidilakukan dengan tidak bosan-bosan.
  1. Pembinaan untuk memiliki sifat jujur
Bersikap jujur merupakan dasar pembinaan akhlak yang sangat penting dalam ajaran Islam, terutama pembinaan kepada anak pada usia dini, untuk tidak terbiasa mengeluarkan bahasa-bahasa yang kasar, berdusta serta berbicara kotor. Seperti terdapat dapam al-Qur’an  (Q.S. An-Nahl 16 : 105.)
$yJ¯RÎ) ÎŽtIøÿtƒ z>És3ø9$# tûïÏ%©!$# Ÿw šcqãZÏB÷sムÏM»tƒ$t«Î/ «!$# ( y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqç/É»x6ø9$#   

Artinya: sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah.
  1. Pembinaan agar menjauhi sifat dengki
Dengki merupakan sifat tercela, merusak jiwa serta atatanan agama, sehingga Allah swt, menyuruh untuk memohon perlindungan dari bahaya. Menjauhi sifat dengki bahagian dari acuan terhadap pendidikan dalam membina pribadi anak muslim dengan membekali bahwa iri hati itu dapat merugikan diri sendiri. Karena merupakan hal penting untuk dapat dibekali anak karena hilangnya sifat dengki pada diri anak tentu akan memilki sifat yang luhur dan selalu mencintai kebaikan serta dapat diterma ditengah-tengah masyarakat dimana anak itu berada, sehingga hatinya selalu lapang dalam menerima berbagai bentuk ujian dan selalu tegar dari gangguan penyakit hati dari orang  disekitarnya.
  1. Pembinaan aqidah
Aqidah merupakan kepercayaan atau keyakinan yang harus ditanamkan dalam diri anak, yaitu menanamkan kecintaan kepada Allah swt dan rasulNya mengajarkan al-Qur’an dan menanamkan nilai-nilai perjuangan.
Dari penjelasan tersebut di atas membina aqidah anak, senantias  orang tua dapat memberikan pengetahuan tentang perjuangan rasulullah saw.dan mencintai Allah swt, dengan mendirikan shalat, berzakat dan percaya adanya hari kiamat, hal ini terdapat dalam al-Qur’an Q.S.Lukman (31): 4
tûïÏ%©!$# tbqßJÉ)ムno4qn=¢Á9$# tbqè?÷sãƒur no4qx.¨9$# Nèdur ÍotÅzFy$$Î/ öNèd tbqãZÏ%qムÇÍÈ
Artinya:yaitu orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka yakin dengan adanya negeri akhir.
Pendidikan aqidah hendakanya dapat mewarnai kepribadian anak, sehingga pendidikan aqidah itu benar-benar menjadi bagian dari pribadinya yang akan menjadi kendali dalam hidupnya dikemudian hari, agar kiranya orang tua  dapat mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.
4.      Bentuk-bentuk kerjasama dalam pembinaan Pendidikan Agama Islam Anak.
Bentuk-bentuk kerjasama dalam pembinaan pendidikan agama Islam anak, akan sangat berpengaruh terhadap pembinaan pendidikan agama Islam anak, oleh karena itu tentu dibutuhkan beberapa bentuk kerjasama, hal ini dimaksudkan agar orang tua dan guru dengan mudah memahami bagaimana cara membina anak dalam pendidikan agama Islam anak. Hal ini dapat dijelaskan oleh informan sebagai berikut:
Mengenai kerjasama antara orang tua dan guru tentu diterap berbagai macam fariasi atau bentuk serta cara pembinaan yang berbeda agar orang tua dan guru tidak merasa jenuh dan bosan sehingga hasil dari kerjasama tersebut hasilnya bisa men jadi lebih baik. (M.Israr, Wawancara, 10 Oktober 2009)
Pelaksanaan kerjasama itu tidaklah muda, karena dibutuhkan perhatian yang khusus dari orang tua dan guru di sekolah, sehingga segala upaya telah dilakukan  oleh guru SMPN 1 Konda utnuk mensuksekan kegiatan ini dengan cara mengundang orang tua murid untuk melakukan pertemuan yang terkait masalah kerjasama tersebut.adapun bentuk kerjasama tersebut anatara lain :
a.       Adanya kunjungan ke rumah anak didik dalam rangka memberikan motifasi kepada orang tua untuk dapat membantu pekerjaan guru dalam membina anak didik dalam hal pendidikan agama anak, sehingga terbentuklah akhlak yang mulia dan prilaku baik dalam kehidupannya sehari-hari.
b.      Guru mengundang orang tua kesekolah, dalam hal ini orang tua diberi kesempatan untuk dapat  ikut serta dalam kegiatan yang diselenggarakan sekolah dalm bentuk perlombaan pelaksanaan shalat, wudhu, azan dan pertandingan lainnya yang terkait masalah pengembangan skil anak didik.
Selain itu pula bentuk kerjasama yang lain yang dilakukan oleh guru adalah:
1.      Orang tua diberi kepercayaan untuk membina anaknya di rumah dan mengontrol ibadah serta membimbing anak tersebut untuk mengamalkan pelajaran agama yang diberikan oleh guru di sekolah.
2.      Guru memberikan tambahan pelajaran agama pada anak didik dan memberikan praktek yang berhubungan  dengan materi pelajaran agama tersebut.
3.      Mengadakan pesantren kilat di sekolah, agar dapat menambah pengalaman dan pengamalan ajaran agama anak didik.
5.      Kendala-kendala yang dihadapi dalam pembinaan pendidikan agama Islam anak di SMPN 1 Konda.
Kendala merupakan salah satu masalah yang sering terjadi dalam setiap pekerjaan,kegiatan atau usaha. Ini menjadi salah satu faktor penghambat yang sangat dirasakan. Beberapa kendala di antaranya sebagai berikut :
4.      Kurangnya perhatian orang tua,kendala ini sering di temui,ini dikarenakan kesibukan pekerjaan kedua orang tua di luar rumah sering menjadi alasan.
5.      Orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan agama kepada pengajar atau guru sekolah,tanpa memikirkan bahwa tanggung jawab dalam pendidikan agama anak,orang tualah yang paling utama.
6.      Selanjutnya kendala di dalam lingkungan sekolah,bahwa sekolah hanya mengikuti kurikulum yang ada.
7.      Orang tua murid tidak mempunyai ilmu pengetahuan tentang agama atau pengetahuan agama mereka sangat terbatas.
8.      Guru agama di SMPN 1 Konda hanya berjumlah dua orang sehingga ini menjadi kendala karena terbatasnya guru pengajar.
6.      Upaya dalam mengatasi kendala-kendala dalam pembinaan pendidikan agama Islam anak di SMPN 1 Konda
Dengan melihat berbagai kendala-kendala dalam kegiatan kerjasama dalam pembinaan pendidikan agama anak di SMPN 1 Konda,maka pihak sekolah dalam hal ini guru dan orang tua harusmenyadari akan pentingnya usaha-usaha dalam melaksanakan kerjasama oang tua dan guru dalam pembinaan pendidikan agama Islam di SMPN 1 Konda. Beberapa upaya-upaya tersebut antara lain :
a.       Orang tua harus memberikan perhatian khusus kepada anak-anaknya dalam hal pembinaan pendidikan agama Islam.
b.      Diberikan pengetahuan kepada orang tua murid bahwa pendidikan agama anak itu sangat penting.
c.       Guru harus memberikan jam tambahan pelajaran khususnya pendidikan agama Isla seperti les dan lain-lain.
d.      Orang tua seharusnya diberi pemahaman bahwa pembinaan pendidikan agama anak dirumah menjadi salah satu faktor utama dalam pembinaan pendidkan agama anak.
`           Upaya-upaya di atas adalah salah satu bentuk usaha yang dijalankan pleh seorang pembina dalam mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dan juga ini sebagai bentuk kepedulian guru dan orang tua terhadap pendidikan agama siswa.














                                                            BAB V
                                                        PENUTUP
  1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang dikemukakan sebelumnya,maka penulis dapat menyimpulkan isi skripsi ini adalah sebagai berikut :
  1. Kerjasama orang tua dan guru dalam pembinaan pendidikan agama Islam di sekolah memang sangat penting,ini sebagai bentuk kepedulian orang tua dan guru dalam menangani masalah pendidikan agama khususnya agama Islam,khususnya dalam akhlak dan perilaku anak-anak di lingkungan keluarga dan pada umumnya dilingkungan masyarakat.
  2. Bentuk-bentuk kerjasama dalam pembinaan pendidikan agama Islam anak. Dalam menentukan bagaimana bentuk kerjasama tersebut pihak sekolah mengadakan rapat terlebih dahulu dan akhirnya disepakati bahwa kerja sama tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Adanya kunjungan guru ke rumah anak didik.
  2. Diundangnya orang tua ke sekolah.  
  3. Adanya surat menyurat.
  4. Orang tua dipercayakan untuk lebih mengawasi anaknya di rumah dan dapat selalu mempelajari pendidikan agama di sekolah.
  5. Guru harus memberikan jam tambahan pelajaran khususnya pendidikan agama Isla seperti les dan lain-lain.
  6. Orang tua seharusnya diberi pemahaman bahwa pembinaan pendidikan agama anak dirumah menjadi salah satu faktor utama dalam pembinaan pendidkan agama anak.
  1. Kendala-kendala yang ditemui adalah sebagai berikut :
  1. Kurangnya perhatian orang tua,kendala ini yang sering ditemui,ini dikarenakan karena kesibukan pekerjaan kedua orang tua di luar rumah.
  2. Orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan agama kepada pengajar atau guru sekolah,tanpa memikirkan bahwa tanggung jawab dalam pendidikan agama anak,orang tualah yang paling utama.
  3. Selanjutnya kendala di dalam lingkungan sekolah,bahwa sekolah hanya mengikuti kurikulum yang ada.
  4. Orang tua murid tidak mempunyai ilmu pengetahuan tentang agama atau pengetahuan agama mereka sangat terbatas.
  1. Upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi kendala-kendala dalam pembinaan pendidikan agama Islam.
  1. Orang tua harus memberikan perhatian khusus kepada anak-anaknya dalam hal pembinaan pendidikan agama Islam.
  2. Diberikan pengetahuan kepada orang tua murid bahwa pendidikan agama anak itu sangat penting.
  3. Guru harus memberikan jam tambahan pelajaran khususnya pendidikan agama Isla seperti les dan lain-lain.
  4. Orang tua seharusnya diberi pemahaman bahwa pembinaan pendidikan agama anak dirumah menjadi salah satu faktor utama dalam pembinaan pendidkan agama anak.
  1. Hasil kerja sama antara orang tua dan guru dalam pembinaan pendidikan agama Isla siswa SMPN 1 Konda memang belum maksimal,hal itu di karenakan banyaknya kendala-kendala yang dihadapi orang tua,salah satunya adalah kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai petani.









DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi Abu, Drs.H, Drs. Noor Salimi, Dasar- Dasar Pendidikan Agama Islam, Bumi , Jakarta: Bumi Aksara, Jakarta: 1994.
Al-Abrasi Athiyah, M. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Pendidkan Islam, Bukan Bintang, Jakarta: 1993.
Al-Taumy, Al-Saibany, Umar Muhammad, Prof.Dr. Falsafah Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta: 1979.
Arifin, Prof. HM. Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta: 2000.
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penenlitian (Suatu Pendekatan Praktek), Rineka Cipta, Jakarta: 1993.
Chalidjah Hasan, Prof. Dr. Hj. Kajian Perbandingan Pendidikan, Surabaya: al-Ikhlas: 1995.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Al-Jumanatul Ali, Bandung: 2004.
Daradjat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, jakarta: 1977.
Hasbullah, Dasar-Dasar Pendidikan, Edisi Revisi, Jakrta: Rajawali Pers, 2004.
Lexy J. Moleang, MA, Metodologi Penenlitian Kualitatif, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 1988.
Muhammad, Nur Abdullah Hafizh, Mendidik Anak Bersama Rasulullah, Al-Nasyr  Al-Islamiyah, 1997.
Nawawi, Hadari, Prof.Dr.H. Pendidikan Dalam Islam, Al-Ikhlas, Surabaya: 1993.
Purwanto, Ngalim, Drs. M. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2003.
Zuharini, Dra. Metode Khusus Pendidikan Agama, Usaha nasional, Surabaya, 1981.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar