Senin, 26 Desember 2011

NASIONALISME DAN GLOBALISASI

 I.       PENDAHULUAN
Nasionalisme, berasal dari kata induk nasional yang yang dalam bahasa Inggris diartikan sebagai kebangsaan. Pengkajian ilmiah tentang konsep bangsa pertama kali dilakukan oleh Ernest Renan pada tanggal 11 maret 1882 di Universitas Sorbonne, Paris. Menurutnya bangsa merupakan jiwa, suatu azas yang ditimbulkan dari kemuliaan bangsa diwaktu sekarang, sehingga merupakan suatu persetujuan atau solidaritas besar dalam bentuk tetap menggunakan warisan dari masa lalu bagi waktu sekarang dan seterusnya. Bicara mengenai nasionalisme Indonesia secara implisit kita juga bicara tentang wawasan kebangsaan. Dimana ia lahir dan dibangun oleh slogan dan komitmen perjuangan dan anti penjajahan, melawan diskriminasi, kemiskinan, dan memberantas kebodohan. Pada dasarnya nasionalisme mempunyai dua unsur. Pertama, kesadaran akan persatuan dan kesatuan bangsa yang terdiri atas banyak suku, etnis, dan agama. Kedua, kesadaran bangsa dalam menghapus penjajahan dan penindasan dari Bumi Indonesia.
Sedangkan nasionalisme, berdasarkan studi semantik Guido Zernatto (1944), berasal dari kata Latin natio, berakar pada kata nascor, yang berarti ''saya lahir''. Dengan kata lain, semua orang yang lahir di Indonesia seyogyanya memiliki jiwa nasionalisme.
Konstruksi nasionalisme yang dibangun di Indonesia berawal dari sebuah pertemuan monumental pada 28 Oktober 1928 di Batavia (sekarang Jakarta). Waktu itu para founding father negeri ini bersepakat bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang "satu". Satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Ikrar tersebut kemudian dilembagakan dengan nama peristiwa Sumpah Pemuda.
Hal itu mesti diakui sebagai titik tolak persatuan dan kesatuan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Memang, konstruksi bangunan Indonesia disusun atas komposisi etnis yang plural lantaran letak geografis yang terpisah pulau dan laut, serta kondisi sosio-kultural yang punya ciri khas masing-masing.
Nasionalisme itu kemudian berhasil dimanfaatkan menghimpun kekuatan melalui "kongsi politik". Sebuah jelmaan kekuatan yang dipakai sebagai alat untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain pada 17 Agustus 1945. Setelah merdeka, "kongsi politik" tersebut kemudian dilestarikan dalam bentuk negara, Republik Indonesia.
Tetapi, lambat laun realitas menyeret konsep nasionalisme menjadi sesuatu yang utopia manakala globalisasi telah menjadi sebuah keniscayaan di belahan dunia manapun. Globalisasi secara ideologis, mampu menggulung semangat nasionalisme sebagai kesadaran kosmis dan pandangan hidup masyarakat nasion. Globalisasi membawa serta liberalisme. Liberalisme hadir sebagai nilai-nilai baru menggantikan nilai-nilai lama nasionalisme di masyarakat nasion.
Dalam wacana umum, seringkali globalisasi dan nasionalisme diperbincangkan sebagai konsep yang saling bertolak belakang yang mana nasionalisme terkikis oleh globalisasi atau nasionalisme menghambat globalisasi. Kendati telah banyak diformulasikan dalam beragam kerangka teoretik, globalisasi dan nasionalisme sebagai fenomena yang bertaut tidak banyak memiliki rujukan empirik yang berarti terutama berkaitan dengan pemaknaan nasionalisme oleh sebuah etnis.
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi juga pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005).
Menurut pendapat Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar  luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.
Untuk itu kami mencoba menyajikan ulasan-ulasan singkat dalam makalah kami ini, tentang Nasionalisme dan Globalisasi dengan batasan pengaruh positif dan negatif Globalisasi terhadap nilai-nilai nasionalisme, pengaruh Globalisasi terhadap generasi muda yang menjadi harapan bangsa dan sekaligus antisipasi sekaligus meminimalisasi pengaruh negatif Globalisasi.
 II.      PEMBAHASAN
Di tengah-tengah semangat kita mengusung reformasi nasional menuju masa depan bangsa yang lebih baik, kita pun dirisaukan dengan berbagai fenomena yang mengindikasikan menurunnya semangat nasionalisme bangsa kita. Oleh karena itulah, semangat cinta tanah air yang merupakan cikal bakal kebangkitan Nasional 1908 dan semangat sumpah pemuda 1928 seharusnya dapat menjadi inspirasi dalam memperkokoh dan mengaktualisasikan wawasan kebangsaan dan nasionalisme Indonesia dalam menghadapi tuntutan perkembangan yang ada.
Pernyataan Ernest Gellner (dalam Nations and Nationalism, 1983) bahwa “Nasionalisme Melahirkan Bangsa” serasa menambah keyakinan betapa pentingnya selalu mengilas balik lahirnya pergerakan Boedi Oetomo (1908) yang telah menggugah inspirasi bangkitnya nasionalisme dalam kancah pergerakan bangsa Indonesia.
Melalui pergerakan Boedi Oetomo yang tidak sepi dari berbagai ancaman dan tekanan, mereka berhasil membangun nasionalisme yang muaranya adalah persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan kebangkitan dan keyakinan atas masa depan bangsanya, dalam kurun waktu 20 tahun sejak lahirnya Boedi Oetomo, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, mereka berhasil merajut kebersamaan, meyakinkan saudara-saudaranya untuk menyatu dalam ikrar Sumpah Pemuda, yaitu sumpah setia untuk bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan berbahasa satu, bahasa Indonesia.
Sumpah Pemuda telah menjadi kekuatan yang mampu menundukkan keangkuhan dan sekaligus kepicikan dari sempitnya memaknai nilai-nilai kultural ‘kebhinnekaan’. Nilai-nilai yang mengantar bangsa Indonesia berhasil merebut dan memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, tujuh belas tahun setelah diikrarkannya Sumpah Pemuda.
Liku-liku perjalanan panjang menuju kemerdekaan tersebut menggambarkan betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan bagi suatu bangsa. Faktanya, NKRI sebagai sebuah negara merdeka dan berdaulat dibangun dengan pengorbanan keringat, darah, dan air mata, termasuk gugurnya para pahlawan kusuma bangsa. Untuk itu, marilah kita renungkan dalam-dalam peringatan Panglima Besar Jenderal Sudirman melalui pesannya, kemerdekaan yang telah dimiliki dan dipertahankan, jangan sekali-kali dilepaskan dan diserahkan siapa pun yang akan menjajah dan menindas kita.
Nasionalisme dan globalisasi
Nilai-nilai intrinsik dan nilai-nilai fundamental bangsa yang selama ini menjadi landasan bangunan kebangsaan dan kenegaraan kita seakan tiada bermakna lagi karena terlalu silau dengan nilai-nilai baru yang belum tentu sesuai dengan karakter dan kultur bangsa Indonesia.
Perbedaan-perbedaan yang muncul tidak saja sebatas perbedaan pandangan, tetapi juga mengarah pada perbedaan ideologi dan bahkan juga benturan fisik.
Perubahan yang mewarnai era global menunjukkan bahwa bentuk ancaman terhadap dunia mengalami transformasi dari perang berskala besar menjadi konflik berintensitas rendah. Konflik berintensitas rendah berkembang dalam bentuk terorisme, vandalisme, penjarahan, konflik kesukuan, konflik agama, dan pertikaian sosial.
Dalam bentuknya yang baru, penjajahan tidak selalu berupa penguasaan teritorial dengan kekerasan bersenjata, tetapi menciptakan ketergantungan dengan memainkan potensi konflik yang ada melalui perang informasi dan perang ekonomi.
Dalam kehidupan seperti itu, masyarakat tak lagi berpikir secara nasional-komunal. Masyarakat lantas berpikir secara liberal-individual. Kehidupan secara liberal-individual ini mensyaratkan perjuangan hidup yang lebih keras. Setiap orang harus bekerja keras memenuhi kebutuhan masing-masing tanpa campur tangan siapa pun. Ini mendorong setiap orang melakukan apa pun demi memenangkan persaingan dalam hidup yang demikian itu.
Selain kemiskinan, kriminalitas, korupsi, dan berbagai masalah sosial lain yang mengiringi hadirnya globalisasi di negara-bangsa seperti Indonesia, sadar atau tidak globalisasi secara laten telah mengakibatkan perubahan berarti.
Globalisasi yang membawa serta liberalisme sebagai tata kehidupan baru secara diam-diam mampu mengikis nasionalisme bangsa ini secara ideologis. Artinya, pola pikir masyarakat kita tak lagi bersifat komunal, patriotik, primordial, dan etnosentrime. Melainkan sudah berubah menjadi liberal-individual, universal, dan open minded.
Meskipun demikian, lantas apa pula yang membuat Indonesia masih tetap eksis sebagai bangsa? Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki pada 1977 mengingatkan ciri utama "Manusia Indonesia" adalah tingginya mentalitas oportunis.
Mentalitas oportunis merupakan kesatuan cara pandang, bersikap, dan berperilaku hanya mementingkan keuntungan dan keselamatan diri sendiri. Mencari aman demi memperpanjang hidup. Dan biasanya, orang bermental oportunis akan selalu berkata "ya" dan sulit berkata "tidak" kepada realitas (termasuk realitas yang menindas) demi mencari keuntungan di dalamnya.
Mentalitas oportunis juga merupakan jelmaan pola pikir feodal yang tak mampu dienyahkan orang Indonesia dari benaknya. Sebab, itu sangat mendasar, diantaranya :
Pertama, Indonesia tempo dulu merupakan wilayah di mana pernah berdiri berbagai kerajaan feodal yang besar dan berpengaruh pada masanya. Hubungan raja dengan rakyat adalah patron-klien (ratu-kawula).
Kedua, Indonesia pernah dijajah bangsa-bangsa feodal yang rakus dan licik, yang paham benar dengan kondisi sejarah dan sosio-kultural negeri jajahannya. Feodalisme makin dikukuhkan kehadiran penjajah. Mereka pun membaptiskan diri sebagai patron (ratu), sedangkan yang dijajah tak berkutik ketika ditahbiskan sebagai klien (kawula).
Feodalisme patron-klien itu sampai pula memengaruhi isi kepala para pemimpin yang muncul kemudian. Meskipun mereka turut andil membentuk nasionalisme bangsa ini, termasuk ikut melakukan perjuangan pergerakan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan, akan tetapi pada akhirnya mereka menjadi feodal pula. Lantas, semangat yang terbangun antara pemimpin dan rakyat pun kemudian bersifat patron-klien. Apa kata atasan, begitulah yang dilakukan bawahan.
Di sisi lain, keadaan rakyat lebih parah lagi. Rakyat hanya mampu berkata "ya" dan tak berani bilang "tidak" saat mendengar titah pemimpinnya. Tidak peduli pemimpin itu benar atau salah. Dengan begitu, tidak heran kalau bangsa ini pernah dipimpin para diktator otoriter dalam rentang waktu yang cukup lama.
Korupsi yang membudaya, pencurian kekayaan alam yang merajalela, tidak becusnya pemimpin mengatur negara, kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak prorakyat seperti menaikkan harga BBM merupakan bentuk praktek-praktek manusia oportunis. Manusia yang melulu mencari keuntungan sebesar-besarnya di tengah kondisi sesulit apapun. Pada sisi yang lain rakyat tidak berani bersuara. Lantaran dia hanya merasa dirinya sebagai hamba sahaya.
Usia nation (bangsa) ini makin tua. Namun, mengikuti analisis di atas, nation (bangsa) ini sebenarnya sedang sakit parah. Jika tak segera diobati bisa saja berujung pada amputasi,nation ini akan terpecah belah menjadi nation-nation kecil yang lemah. Hingga akhirnyanation-nation itu takluk pada kuasa globalisasi yang membawa vested interest orang asing.
Sesungguhnya nasionalisme di Indonesia itu ada. Namun, keberadaannya patut mendapat catatan tersendiri lantaran keunikannya itu. Nasionalisme Indonesia lahir di tengah-tengah masyarakat nation yang plural yang berisi manusia-manusia bermental oportunis. Nasionalisme yang demikian menjadi sesuatu yang sulit ditakar. Lantaran nasionalisme ini jelmaan feodalisme kerajaan-kerajaan dulu yang teramat mengakar.
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.
Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai-nilai nasionalisme
  1. Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat.
  2. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.
  3. Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.
Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme
  1. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang
  2. Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
  3. Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
  4. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.
  5. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.
Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.
Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.
Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.
Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?
Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme.
Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme
Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu :
  1. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
  2. Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
  3. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
  4. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
  5. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.
Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.
III.    PENUTUP
Nasionalisme Indonesia dibangun dengan prinsip mengutamakan kebersamaan dan hak kolektif. Karena hanya dengan kebersamaan dan kolektivitas, potensi konflik akibat keanekaragaman suku, agama, ras, dan adat istiadat dapat dicegah dan dieliminasi. Tanpa itu, sulit rasanya terwujud Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dalam keadaannya yang demikian, keanekaragaman merupakan sebuah potensiâ berharga yang telah terbingkai oleh founding fathers kita dalam sesanti Bhinneka Tunggal Ika yang ruh sesungguhnya tidak lain dari persatuan dan kesatuan.
Persoalan mendasar yang harus menjadi pemahaman bersama bahwa setiap masa membawa tantangannya sendiri.
Penjajahan dalam bentuknya yang halus hadir bersama gelombang pasang globalisasi, yaitu bergulirnya suatu proses transformasi berbagai dimensi kehidupan sosial yang mengarah kepada satu pusat budaya kosmopolitan dengan mendesakkan uniformitas secara universal. Secara perlahan, tetapi pasti, proses universalisasi ini mengikis batas-batas identitas individu dan negara secara hampir bersamaan melalui liberalisasi ekonomi dan demokratisasi di tingkat global maupun nasional. Dampak nyata yang kita rasakan adalah adanya kecenderungan menguatnya sikap konsumerisme dan individualisme, serta mereduksi semangat kolektivitas yang memunculkan gejala penolakan terhadap konsep persatuan dan kesatuan sebagai sebuah dogma.
Jika tantangan yang harus kita hadapi memang demikian, tidak ada jalan lain untuk menghadapinya kecuali dengan revitalisasi dan reaktualisasi kebangsaan dan nasionalisme kita.
Kekuatan nasionalisme harus kita perkokoh lagi dengan melepaskan sikap individualistis, egoistis, hedonistis, dan konsumeristis yang mengoyak kebersamaan, toleransi, semangat gotong royong, dan musyawarah mufakat yang selama ini menjadi kekayaan bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar