Rabu, 27 Juni 2012

MENINGKATKAN MINAT BELAJAR KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN POKOK BAHASAN GAYA KEPEMIMPINAN MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) (Suatu Penelitian Tindakan Kelas di STAIN Kendari)


MENINGKATKAN MINAT BELAJAR KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN POKOK BAHASAN GAYA KEPEMIMPINAN MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
(Suatu Penelitian Tindakan Kelas di STAIN Kendari)
Oleh: Syahrul, S.Pd.I, M.Pd.

Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), yakni pendekatan yang mencoba memperbaiki pendidikan melalui perubahan dengan mendorong guru untuk menyadari dan memahami praktek mengajarnya, bersifat kritis terhadap praktek tersebut dan siap untuk mengubahnya yang bersifat partisipatif (melibatkan peneliti) dan kolaboratif (melibatkan orang lain).
Masalah pokok penelitian ini adalah “Apakah pendekatan kontekstual (CTL) pada Mata Kuliah Kepemimpinan Pendidikan pokok bahasan Gaya Kepemimpinan dapat meningkatkan minat belajar Mahasiswa?”. Tujuan Penelitian ini adalah “untuk mengetahui peningkatan minat belajar mahasiswa pada Mata Kuliah Kepempimpinan Pendidikan pokok bahasan gaya kepemimpinan dengan menggunakan pendekatan kontekstual (CTL)”.
Hasil Penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan minat belajar mahasiswa pada pokok bahasan Gaya Kepemimpinan Mata Kuliah Kepemimpinan Pendidikan melalui pendekatan Pembelajaran Kontekstual (CTL) pada setiap siklus, setelah membandingkan dengan indikator ketuntasan belajar (kognitif, afektif, psikomotorik). Pada siklus pertama terlihat bahwa: a) nilai rata-rata hasil kuesioner mahasiswa meningkat dari 56,13 menjadi 64,83 yang termasuk dalam kategori berminat; b)  hasil belajar kognitif mahasiswa siklus 1 terlihat nilai rata-rata hasil tes mahasiswa meningkat dari 64,62 menjadi 75,50 dan ketuntasan belajar klasikal juga meningkat dari 53,85% menjadi 88,46%. Pada siklus kedua terlihat bahwa: a) rata-rata hasil kuesioner mahasiswa meningkat menjadi 70,67 dan termasuk kategori sangat berminat; b) nilai rata-rata hasil tes mahasiswa adalah 77,69 dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 96,15%; c) rata-rata hasil belajar afektif nilai mahasiswa meningkat dari 84,42 menjadi 89,04 dengan ketuntasan klasikal sebesar 100%; d) rata-rata hasil belajar psikomotorik mahasiswa meningkat dari 83,85 menjadi 92,40 dengan ketuntasan belajar klasikal meningkat dari 88,46% menjadi 100%.


Kata Kunci : Pembelajaran Kontekstual, Minat Belajar









I. PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Secara sadar kita relatif sepaham bahwa pendidikan sangat penting dan strategis dalam kehidupan sebuah bangsa. Sumber daya insani sebagai investasi jangka panjang hanya dapat terwujud melalui pendidikan. Oleh karenanya, upaya sungguh-sungguh dan sistematis mesti terus dilakukan, dengan pendekatan yang komprehensif. Bahwa penaatan pendidikan harus dimulai dari keinginan baik, back up kebijakan, perbaikan kesejahteraan tenaga pendidik dan kependidikan, sarana prasarana memadai, profesionalisme dan membangun kesadaran masyarakat.
Dalam penelitian ini penulis akan berbicara lebih spesifik pada aspek tenaga pendidik (guru) yang professional. Jika kita menggunakan pendekatan sistem setidaknya komponen yang harus ada dalam pendidikan di sekolah adalah guru sebagai in-put, layanan atau proses, dan output. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa out-put adalah hasil penjumlahan dari in-put dan proses. Hasil (out-put) dapat dilihat pada indikator proses dan capaian mahasiswa pada sebuah  mata kuliah. Dalam konteks ini, dosen harus mampu (kompeten) memilih dan menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan mata kuliah, yang dalam penelitian ini fokus pada mata kuliah Kepemimpinan Pendidikan Pokok Bahasan Model Kepemimpinan.
Berdasarkan  pengalaman dan pengamatan peneliti, dosen di Jurusan Tarbiyah STAIN Kendari umumnya mengajar cenderung bersifat informatif atau hanya transfer ilmu pengetahuan dari dosen ke mahasiswa. Kondisi ini berdampak pada cara belajar mahasiswa yang cenderung pasif dan minat belajar yang rendah. Imbas berikutnya tentu saja pada rendahnya pemahaman terhadap materi kuliah yang diajarkan di kelas.
Tugas dosen tentunya adalah menjadikan pembelajaran itu lebih bermakna dengan cara melibatkan pengalaman mahasiswa. Minat belajar mahasiswa perlu dirangsang sedemikian rupa karena pelajaran berjalan lancar bila ada minat dari mahasiswa. Menumbuhkan minat adalah sinergi dari aspek fisik (material) sekolah dan mental tenaga pendidik.
Aspek sarana dan prasarana belajar seperti perpustakaan, laboratorium, ruang kelas yang efektif, akses internet, media pembelajaran adalah faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa maupun hasil belajar yang diperoleh mahasiswa.  Di sisi lain , dosen perlu mempersiapkan strategi pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan minat dan hasil belajar mahasiswa secara optimal.  Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)  sebagai strategi yang diharapkan menjadi alat perbaikan dan peningkatan minat belajar mahasiswa secara optimal terutama dalam mata kuliah Kepemimpinan Pendidikan.
Mata Kuliah Kepemimpinan Pendidikan merupakan mata kuliah utama bagi Program Studi Kependidikan Islam (KI) Jurusan Tarbiyah STAIN Kendari, yang memang concernnya adalah pada persoalan manajemen pendidikan. Telah diketahui bahwa kepemimpinan merupakan inti dari manajemen, termasuk di bidang pendidikan. Dengan demikian, lulusan yang dihasilkan nantinya adalah para calon manajer dan administrator pendidikan, yang tentu saja telah (dan harus) memiliki pengetahuan yang baik terkait bidangnya.
Kepemimpinan pendidikan dapat dimaknai sebagai praktek kepemimpinan dalam lembaga pendidikan. Di dalamnya terdapat beberapa aspek yang saling bersinergi, seperti: pemimpin, pengikut, dan lembaga. Pengaruh merupakan ciri khas yang membedakan seorang pemimpin (leader) dengan manajer. Seseorang dapat menjadi pemimpin tanpa sebuah organisasi, seperti keunggulan gagasan, innovasi, kreatifitas dan sebagainya. Sebaliknya menjadi manajer memerlukan organisasi formal, dimana ketundukan bawahan hanya pada bingkai struktur organisasi. Idealnya, seorang harus memiliki keduanya (leader dan manajer) dalam memimpin lembaga pendidikan.
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, menuntut seorang pemimpin untuk responsif sehingga organisasi dapat beradaptasi dalam gerak perubahan tersebut. Gaya kepemimpinan sangat mempengaruhi respon-respon seorang pemimpin, apakah menjadi agresif, bermasa bodoh, atau menggunakan mekanisme pertahanan (defends mechanism).
The real leader, adalah ungkapan yang sering mengundang perhatian. Demikian juga pernyataan “Pemimpin Boneka”. Idiom-idiom tersebut jika dipahami dengan baik dapat membantu kita dalam mengalisis dan menginterpretasi praktek-praktek kepemimpinan dewasa ini. Di dalam institusi pendidikan pun tidak terlepas dari kecenderungan tersebut, sehingga kita berkepentingan secara akademik untuk memberikan pencerahan.
Kepemimpinan pendidikan adalah perpaduan kompetensi organisatoris dan kompetensi seorang pendidik. EMASLIM (educator, manager, administrator, supervisor, leader, innovator, motivator) adalah peran-peran eksistensial yang harus ada pada seorang pemimpin di bidang pendidikan, kapanpun dan di mana pun. Hal ini selaras dengan semangat Ing madya mangun karsa Ing ngarsa sung tulada tut wuri handayani.
Penjelasan di atas memberi gambaran betapa pentingnya mata kuliah Kepemimpinan pendidikan, sehingga memerlukan perhatian serius dalam rangka memberikan pemahaman yang baik bagi mahasiswa. Hal ini tidak saja berguna setelah mereka lulus dari perguruan tinggi ketika memasuki dunia kerja, tetapi di sisi lain dapat lebih tanggap terhadap gejala-gejala kepemimpinan di mana saja mereka berada. Dalam pengamatan peneliti, masalah yang dihadapi oleh mahasiswa adalah rendahnya minat belajar. Hal ini mungkin saja disebabkan pendekatan pembelajaran yang digunakan selama ini kurang tepat. Pembelajaran yang terlalu teoritis pada titik tertentu kerapkali mendatangkan kejenuhan, sehingga perlu mengajak peserta didik untuk mengalami apa-apa yang telah dipelajarinya. Memberikan contoh-contoh kontekstual tentang gaya kepemimpinan akan memberikan kesan mendalam dan tinggal dalam memory jangka panjang (long term memory) mahasiswa.
Minat belajar adalah kecenderungan seseorang  terhadap  obyek  atau  sesuatu  kegiatan  yang  digemari  yang  disertai  dengan  perasaan  senang,  adanya  perhatian,  dan keaktifan dalam belajar. Minat  adalah  salah  satu  faktor  yang  dapat  mempengaruhi  usaha  yang  dilakukan  seseorang.  Minat  yang  kuat  akan  menimbulkan usaha  yang  gigih  serius  dan  tidak  mudah  putus  asa  dalam  menghadapi tantangan.  Jika  seorang  mahasiswa memiliki  rasa  ingin  belajar,  ia  akan  cepat dapat mengerti dan mengingatnya. Para ahli seperti Hurlock, memberi catatan penting tentang minat ini, bahwasannya minat berdimensi jangka panjang, yakni:
Pertama, bahwa minat mempengaruhi intensitas cita-cita. Seseorang yang bercita-cita menjadi pemimpin yang baik, tentu memiliki minat terhadap kepemimpinan.
Kedua, minat sebagai pendorong yang kuat. Dalam keadaan apapun, seseorang akan terus belajar karena minat yang kuat.
Ketiga, minat yang terbentuk secara intens akan terbawa seumur hidup. Hal inilah yang turut menyumbang besar dalam proses seseorang meraih cita-cita.
Jelaslah bahwa minat  merupakan  salah  satu  faktor  yang  dapat mempengaruhi usaha  yang  dilakukan  seseorang.  Minat  yang  kuat  akan  menimbulkan usaha  yang  gigih  serius  dan  tidak  mudah  putus  asa  dalam  menghadapi tantangan.  Jika  seorang  mahasiswa memiliki  rasa  ingin  belajar,  ia  akan  cepat dapat mengerti dan mengingatnya.
Beberapa penjelasan dan argumentasi di atas menjadi pertimbangan untuk melakukan penelitian tentang: “PENINGKATAN MINAT BELAJAR KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) PADA POKOK BAHASAN GAYA KEPEMIMPINAN PROGRAM STUDI KI SEMESTER VII STAIN KENDARI TAHUN AKADEMIK 2009/2010“.

B.       Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan penelitian ini adalah: “Apakah pendekatan kontekstual (CTL) pada Mata Kuliah Kepemimpinan Pendidikan pokok bahasan Gaya Kepemimpinan dapat meningkatkan minat belajar Mahasiswa?”

C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan minat belajar mahasiswa pada Mata Kuliah Kepempimpinan Pendidikan pokok bahasan gaya kepemimpinan dengan menggunakan pendekatan kontekstual (CTL).

D. Manfaat Penelitian
            Penelitian tindakan kelas ini diharapkan memberi manfaat bagi individu maupun lembaga, yakni sebagai berikut:
1.    Bagi Dosen, berguna untuk melakukan perbaikan pembelajaran di kelas terutama dengan menggunakan pendekatan kontekstual.
2.    Bagi mahasiswa, berguna untuk memberikan motivasi dalam belajar dan meningkatkan minat belajar mereka.
3.    Bagi lembaga, menjadi referensi tambahan dalam rangka perbaikan proses pembelajaran di STAIN Kendari. 


E. Definisi Operasional
            Dalam rangka menghindari multi-interpretasi terhadap judul penelitian ini, peneliti perlu mengemukakan definisi operasional sebagai berikut:
1.    Pembelajaran Kontekstual adalah konsep belajar yang membantu dosen dalam mengaitkan antara pokok bahasan yang diajarkan dengan situasi nyata mahasiswa dan mendorong mahasiswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya.
2.    Minat Belajar adalah kecenderungan yang dapat menimbulkan perhatian terpusat terhadap belajar. Aspek-aspek minat dalam belajar adalah kesenangan, kemauan, kesadaran, dan perhatian.  

II . LANDASAN TEORETIK
A. Hakekat Belajar
Hakekat belajar dapat diketahui dengan melihat pandangan para ahli psikologi, di antaranya:
Gagne and Berliner (dalam Anni dan Catharina, 2004: 2) belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Slameto (1995:2) mengemukakan bahwa belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut thorndike (1874-1949), belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indra. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan mahasiswa ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atua gerakan/tindakan. Sedangkan Hamalik (1995:37), mendeskripsikan belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya.
Muhibbin Syah (2008:89), belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing). Hilgard dan Gordon (1975 : 17), Pada hakikatnya “belajar menunjuk ke perubahan dalam tingkah laku si subjek dalam situasi tertentu berkat pengalamnnya yang berulang-ulang, dan perubahan tingkah laku tersebut tak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan-kecenderungan respons bawaan, kematangan atau keadaan temporer dari subjek (misalnya keletihan, dan sebagainya).
Dari beberapa konsep di atas tampak bahwa konsep tentang belajar mengandung tiga unsur utama, yaitu:
a. Belajar berkaitan dengan perubahan perilaku.
b. Perubahan perilaku itu terjadi karena didahului oleh proses pengalaman.
c. Perubahan perilaku terjadi karena belajar bersifat relatif permanen
Benyamin S. Bloom (Gay, 1985: 72-76; Gagne dan Berliner, 1984: 57-60) dalam Anni, Tri Catharina (2004: 6) mengemukakan tiga taksonomi yang disebut dengan ranah belajar, yaitu: 1).Ranah Kognitif ; 2) Ranah Afektif ; dan 3) Ranah Psikomotorik
B. Hakekat Minat Belajar
Beberapa ahli memberikan definisi tentang minat sebagai berikut: Jersild dan Tasch dalam Nurkancana, W. & Sunartana (1986: 229) menekankan bahwa minat/interest menyangkut aktivitas-aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu. Sedangkan menurut Doyles Fryer dalam Nurkancana, W. & Sunartana (1986: 229) minat adalah gejala psikis yang berkaitan dengan objek/aktivitas yang menstimulir perasaan senang pada individu.
Walaupun minat/interest didefinisikan secara berbeda-beda, tetapi minat senantiasa erat hubungannya dengan perasaan individu, objek, aktivitas dan situasi. Selain itu, minat sangat erat hubungannya dengan kebutuhan. Minat yang timbul dari kebutuhan anak-anak akan merupakan faktor pendorong bagi anak dalam melaksanakan usahanya. Jadi, dapat dilihat bahwa minat sangat penting dalam pendidikan, sebab merupakan sumber dari usaha. Anak-anak tidak perlu mendapatkan dorongan dari luar, apabila pekerjaan yang dilakukannya cukup menarik minatnya.
S. Indrafachrudi (1970: 96) mengemukakan bahwa prinsip umum dari minat ialah bahwa minat seorang anak itu berpusat pada aktivitas yang menimbulkan kepuasan yang mengurangi ketegangan (tension). Sehingga, apabila aktivitas yang dilakukan oleh anak menarik perhatiannya, maka akan timbul minat pada anak tersebut dan mendapat suatu kepuasan.
Aspek-aspek minat dalam belajar adalah kesenangan, kemauan, kesadaran, dan perhatian. Tanpa adanya aspek-aspek tersebut, hasil belajar mahasiswa tidak akan optimal. Namun, dalam pengukuran minat, aspek kesenangan tidak disertakan. Adapun peranan dan fungsi minat dalam belajar adalah:
1. Minat sebagai pendorong yang mengarahkan perbuatan seseorang dalam beraktivitas.
2.   Minat dapat membantu dalam memusatkan perhatian terhadap masalah yang dihadapi.
3.   Minat sebagai pembantu dalam pertumbuhan dan perkembangan seseorang dalam mencapai suatu kematangan dan kedewasaan serta cita-cita.
Selain itu, ada beberapa alasan mengapa seorang dosen perlu mengadakan pengukuran terhadap minat anak-anak, antara lain adalah sebagai berikut:
a. Untuk meningkatkan minat anak-anak.
b. Untuk memelihara minat yang baru timbul.
c. Untuk mencegah timbulnya minat terhadap hal-hal yang tidak baik.
d. Sebagai persiapan untuk memberikan bimbingan kepada anak tentang lanjutan studi/pekerjaan yang cocok baginya.
Menurut Nurkancana, W. & Sunartana (1986: 233), salah satu metode pengukuran minat adalah dengan menggunakan kuesioner yang di dalamnya berisi tentang pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan keadaan mahasiswa yang harus dipilih dan kuesioner jauh lebih efisien dalam penggunaan waktu. Dari pilihan tersebut dalam tiap pernyataan akan menghasilkan skor yang mencerminkan minat.
Minat antara lain dapat dibangkitkan dengan cara-cara berikut:
1. Membangkitkan suatu kebutuhan mahasiswa (kebutuhan untuk menghargai keindahan, memperoleh penghargaan, dsb).
2. Menghubungkan pelajaran dengan pengalaman yang lampau.
3. Memberi kesempatan mahasiswa untuk mendapat hasil yang baik.
4. Menggunakan pelbagai bentuk mengajar seperti diskusi, kerja kelompok, demonstrasi, dsb).
Dari penjelasan di atas, maka supaya minat mahasiswa dapat dibangkitkan untuk memperoleh hasil yang baik, guru perlu mengusahakan cara-cara tersebut di atas.

C.  Hakekat Pendekatan Kontekstual ( CTL )
Contextual Teaching and Learning  (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru dalam mengaitkan antara pokok bahasan yang diajarkan dengan situasi nyata mahasiswa dan mendorong mahasiswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni:
1. Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivisme berasumsi bahwa pengetahuan manusia dibangun sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Sehingga, mahasiswa harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata maupun keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar.
Strategi memperoleh lebih diutamakan daripada seberapa banyak mahasiswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru (Nurhadi, 2002: 10).
2. Bertanya (Questioning)
Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Terkait hal ini, Nasution (2004: 161) menjelaskan bahwa bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk:
a. Mendorong anak berfikir untuk memecahkan suatu soal.
b. Membangkitkan pengertian yang lama maupun yang baru.
c. Menyelidiki dan menilai penguasaan murid tentang bahan pelajaran.
d. Membangkitkan minat untuk sesuatu, sehingga timbul keinginan untuk mempelajarinya.
e. Mendorong anak untuk menginterpretasi dan mengorganisasi pengetahuan dan pengalamannya dalam bentuk prinsip/generalisasi yang lebih luas.
f. Menyelidiki kepandaian, minat, kematangan, dan latar belakang anak-anak.
g. Menarik perhatian anak atau kelas.

3. Menemukan (Inquiry)
Dalam CTL Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh mahasiswa semestinya merupakan hasil dari menemukan sendiri. Dosen perlu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan. Kegiatan inkuiri memiliki siklus yakni : observasi, bertanya, mengajukan dugaan, mengumpulkan data dan menyimpulkan. Adapun langkah-langkah dalam kegiatan inkuiri adalah:
a. Rumusan masalah → hipotesis
b. Mengamati atau melakukan observasi → pengumpulan data
c. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dll.
d. Mengkomunikasikan/menyajikan hasil karya kepada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain.
             
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Asumsi  learning community bahwa hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Dalam hal ini guru melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Mahasiswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen yaitu ada yang pandai dan ada yang kurang pandai supaya dapat terjadi komunikasi dua arah (Nurhadi, 2002: 15).

5. Pemodelan (Modelling)
Dalam CTL, dosen bukan satu-satunya model, tetapi dapat juga melibatkan mahasiswa. Seorang mahasiswa dapat ditunjuk untuk memberi contoh temannya tentang kegiatan yang akan dilakukan. Ada kalanya mahasiswa lebih paham apabila diberi contoh oleh temannya (Nurhadi, 2002: 16).

6. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan renungan tentang kegiatan yang sudah dilakukan, dan menjadi pembanding terhadap apa yang akan dilakukan di masa depan. Guru perlu memberikan waktu kepada mahasiswa untuk melakukan refleksi pada setiap akhir pertemuan.

7. Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian adalah proses membandingkan hasil kerja mahasiswa dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam hal ini data mesti tersedia dengan baik. Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian bukanlah mencari informasi tentang belajar mahasiswa. Gambaran perkembangan belajar mahasiswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa mahasiswa mengalami proses pembelajaran yang benar.
Secara garis besar, langkah-langkah pembelajaran CTL adalah sebagai berikut:
a.  Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
b. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
c. Mengembangkan sifat ingin tahu mahasiswa dengan bertanya.
d. Menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
e. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
f. Melakukan refleksi di akhir pertemuan.
g. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.




BAB III
METODE PENELITIAN
A.  Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (Action Research), yakni sebuah pendekatan yang mencoba memperbaiki pendidikan melalui perubahan dengan mendorong guru untuk menyadari dan memahami praktek mengajarnya, bersifat kritis terhadap praktek tersebut dan siap untuk mengubahnya yang bersifat partisipatif (melibatkan peneliti) dan kolaboratif (melibatkan orang lain).

B.  Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di STAIN Sultan Qaimuddin Kendari yang berlangsung pada bulan Oktober sampai Desember 2009.

C.  Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Prodi Kependidikan Islam (KI) semester VII Kelas A yang berjumlah 17 orang. Karena populasi yang relatif kecil tersebut, maka sampelnya diambil secara sensus. Sehingga sampel penelitian ini adalah 17 orang.

D.  Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini melalui 2 (dua) siklus. Sebelumnya, mahasiswa diberikan tes awal (pre-test) dalam rangka pemetaan. Setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yakni: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, dan refleksi. Secara detail tahapan kegiatan di atas dijelaskan sebagai berikut:
1. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan antara lain: a) Observasi awal dan identifikasi masalah ; b)  Menyusun skenario dan perangkat pembelajaran yaitu silabus dan sistem penilaian, rencana pembelajaran (RP), lembar kerja mahasiswa, serta alat dan bahan yang terkait dengan pokok bahasan yang diajarkan; c) Menyusun lembar kuesioner untuk mengetahui seberapa besar minat mahasiswa terhadap mata kuliah kepemimpinan pendidikan; d) Menyiapkan alat evaluasi berupa tes tertulis untuk mengetahui hasil kognitif mahasiswa dan lembar observasi untuk penilaian afektif dan psikomotorik mahasiswa; e) Menyusun kisi-kisi lembar kuesioner.

2. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah disusun sebelumnya, yakni: a) pemberian materi dengan menggunakan Metode CTL, dimana frekuensi pertemuan adalah 3 (tiga) kali pada masing-masing siklus; b) Peneliti mengisi instrumen observasi secara obyektif  tentang kegiatan belajar mengajar; c) Peneliti mengadakan refleksi tentang tindakan yang telah dilaksanakan; d) Mengambil kesimpulan hasil analisis refleksi kemudian merancang kembali strategi baru yang akan dilaksanakan pada siklus selanjutnya.
   


3. Pengamatan (Observasi)
Kegiatan yang dilakukan adalah mengamati kegiatan yang dilakukan mahasiswa selama pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) pada pokok bahasan Gaya Kepemimpinan, kemudian peneliti mengisi dan kemudian menganalisis lembar observasi afektif dan psikomotorik untuk mengetahui kemampuan afektif dan psikomotorik mahasiswa.

4. Refleksi
Kegiatan yang dilakukan adalah merefleksikan kegiatan yang telah dilakukan mahasiswa selama pelaksanaan pembelajaran apakah mahasiswa mampu berperan secara aktif dalam pembelajaran, apakah mahasiswa mampu memahami materi yang berikan oleh guru, apakah terjadi kenaikan minat belajar mahasiswa dalam  mata kuliah Kepemimpinan Pendidikan dengan menggunakan Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) pada pokok bahasan Gaya Kepemimpinan. Hal ini dimaksudkan agar hasil refleksi ini dapat berguna bagi mahasiswa maupun dosen di masa yang akan datang.

E.    Teknik Pengumpulan Data
Data atau informasi dalam penelitian ini terkumpul dengan menggunakan beberapa teknik sebagai berikut:
1.      Pengamatan awal, digunakan untuk mengetahui hal-hal yang terjadi dan dilakukan oleh dosen dan mahasiswa dalam proses belajar mengajar.
2.      Kuisioner, digunakan untuk mengetahui persepsi mahasiswa tentang teknik yang diterapkan dosen dan kesulitan-kesulitan yang masih dialami dalam pembelajaran.
3.      Tes, digunakan untuk mengetahui peningkatan minat belajar mahasiswa dalam pelajaran Kepemimpinan Pendidikan.
4.      Catatan harian guru, digunakan untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama berlangsungnya proses belajar mengajar, baik dari pihak dosen maupun mahasiswa. Catatan harian ini ditulis segera setelah berakhirnya proses belajar mengajar.
5.      Portofolio mahasiswa berisi tentang evaluasi diri, refleksi diri, kesan terhadap proses belajar mengajar yang telah berlangsung, dan saran-saran untuk memperbaiki proses belajar mengajar pada pertemuan berikutnya.
6.      Wawancara, dilakukan pada akhir proses belajar mengajar dengan beberapa mahasiswa yang bisa mewakili kelas untuk memberikan komentar terkait proses belajar mengajar.
             
F. Metode Analisis Data
Data dalam penelitian ini dianalisis dengan metode deskriptif, yakni sebagai berikut:
1. Data hasil pengisian kuesioner sebelum dan sesudah tindakan dihitung dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Membaca setiap jawaban yang dipilih oleh mahasiswa pada lembar kuesioner baik sebelum tindakan maupun sesudah tindakan.
b. Memberikan skor pada lembar kuesioner yang sudah diisi oleh mahasiswa. Sistem penskoran menggunakan skala Likert.
c. Merekapitulasi skor hasil pengisian kuesioner sebelum dan sesudah tindakan untuk mengetahui peningkatan minat mahasiswa kemudian dimasukkan dalam kategori minat mahasiswa, yaitu:

Tabel 3.1 Kriteria Minat Mahasiswa
Skor Mahasiswa
Kriteria Minat
20 – 35
Tidak berminat
36 – 50
Kurang berminat
51 – 65
Berminat
66 – 80
Sangat berminat
(Suyitno, Amin, 2004: 73)

E.  Indikator Keberhasilan
Keberhasilan penelitian tindakan kelas ini dilihat dari peningkatan minat belajar mahasiswa terhadap mata kuliah Kepemimpinan Pendidikan pokok bahasan Gaya Kepemimpinan. Peningkatan dimaksud meliputi aspek kognitif maupun aspek psikomotorik, karena keberhasilan pembelajaran pada aspek kognitif dan psikomotorik sangat ditentukan oleh kondisi afektif mahasiswa yaitu minat.
Menurut Mulyasa (2003: 99), dalam penilaian aspek kognitif, seorang mahasiswa dipandang telah tuntas belajar apabila mampu menyelesaikan dan mencapai tujuan pembelajaran minimal 65% dari seluruh tujuan pembelajaran. Namun, lain halnya dengan penilaian aspek psikomotorik dan aspek afektif. Menurut Priatiningsih (2004: 4), pelaporan penilaian aspek psikomotorik adalah minimal 75% sesuai dengan mastery learning atau ketuntasan belajar mahasiswa.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Penelitian
1.    Kegiatan Pendahuluan
Fokus utama penelitian ini adalah upaya peningkatan minat belajar Kepemimpinan Pendidikan. Pelaksanaan penelitian ini terdiri dari tahap praobservasi sampai tahap pelaksanaan penelitian pada semua siklus. Pembahasan pada setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, refleksi dan pengujian hasil penelitian.
Obyek pengamatan pada penelitian ini adalah mahasiswa semester VII kelas A program studi Kependidikan Islam (KI) Jurusan Tarbiyah STAIN Sultan Qaimuddian Kendari TA. 2009/2010. Mahasiswa di kelas ini berjumlah 17 orang.

2. Siklus Pertama
Pada siklus pertama, data-data yang diperoleh dibandingkan dengan data-data awal sebelum dilakukan tindakan, yaitu:
a. Hasil Analisis Kuesioner Mahasiswa
Untuk mengetahui minat belajar mahasiswa sebelum dan sesudah dilakukan pembelajaran menggunakan pendekatan CTL pada siklus 1 yaitu digunakan lembar kuesioner yang harus dipilih oleh mahasiswa. Hasil analisis kuesioner mahasiswa ditunjukkan pada tabel di bawah ini:


Tabel 4.1 Hasil Analisis Kuesioner Mahasiswa
No.
Hasil Kuesioner
Data Awal
Data Siklus 1
1.
Skor Tertinggi
67
78
2.
Skor Terendah
26
39
3.
Skor Rata-Rata
56,13
64,83
4.
Kategori
Berminat
Berminat

b. Hasil Belajar Kognitif Mahasiswa
Setelah mendapatkan data nilai awal sebelum dilakukan pembelajaran menggunakan pendekatan CTL dan sesudah dilakukan pembelajaran menggunakan pendekatan CTL dengan memberikan tes evaluasi di akhir siklus 1, maka data hasil belajar kognitif mahasiswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.2 Hasil Belajar Kognitif Mahasiswa
No.
Hasil Tes
Data Awal
Data Siklus 1
1.
Nilai Tertinggi
90
93
2.
Nilai Terendah
40
53
3.
Nilai Rata-Rata
64,62
75,50
4.
Ketuntasan Klasikal
53,85%
88,46%


Secara keseluruhan, data hasil pelaksanaan siklus 1 adalah sebagai berikut:
 1. Hasil Analisis Kuesioner Mahasiswa
a. Skor rata-rata yang diperoleh mahasiswa setelah mengisi lembar kuesioner yaitu sebesar 64,83 yang termasuk dalam kategori berminat.
b. 3mahasiswa termasuk dalam kategori kurang berminat, 4 mahasiswa termasuk dalam kategori berminat sedangkan 10 mahasiswa termasuk dalam kategori sangat berminat.
2. Hasil Belajar Kognitif Mahasiswa
a.  Nilai rata-rata mahasiswa pada tes evaluasi siklus 1 sebesar 75,50 dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 88,46%.
b. Setelah dilaksanakan tes di akhir siklus 1 terdapat 2 mahasiswa yang belum tuntas, sedangkan 15 mahasiswa sudah dinyatakan tuntas belajar. Pada pelaksanaan siklus 1 masih terdapat banyak kekurangan, sehingga peneliti berusaha untuk meningkatkannya pada siklus 2.

2. Siklus Kedua
Pada siklus 2, data-data yang diperoleh pada siklus 1 dibandingkan dengan data-data yang diperoleh pada siklus 2, yaitu:
a. Hasil Analisis Kuesioner Mahasiswa
Untuk mengetahui minat belajar mahasiswa sesudah dilakukan pembelajaran menggunakan pendekatan CTL pada siklus 1 dan siklus 2 yaitu digunakan lembar kuesioner yang harus dipilih oleh mahasiswa. Hasil analisis kuesioner mahasiswa ditunjukkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.3Hasil Analisis Kuesioner Mahasiswa
No.
Hasil Kuesioner
Data Siklus 1
Data Siklus 2
1.
Skor Tertinggi
78
80
2.
Skor Terendah
39
55
3.
Skor Rata-Rata
64,83
70,67
4.
Kategori
Berminat
Sangat Berminat

b. Hasil Belajar Mahasiswa
1. Hasil Belajar Kognitif Mahasiswa
Setelah mendapatkan nilai hasil tes evaluasi di akhir siklus 1 dan akhir siklus 2 setelah dilakukan pembelajaran menggunakan pendekatan CTL, maka data hasil belajar kognitif mahasiswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.4 Hasil Belajar Kognitif Mahasiswa
No.
Hasil Tes
Data Siklus 1
Data Siklus 2
1.
Nilai Tertinggi
93
100
2.
Nilai Terendah
53
60
3.
Nilai Rata-Rata
75,50
77,69
4.
Ketuntasan Klasikal
88,46%
96,15%


2.      Hasil Belajar Afektif Mahasiswa
Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual (CTL) didapatkan nilai hasil dari pengisian lembar observasi di akhir siklus 1 dan akhir siklus 2, yaitu:
 a. Data Hasil Belajar Afektif Minat
Data hasil belajar afektif minat mahasiswa setelah mengisi lembar observasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini:


Tabel 4.5 Hasil Belajar Afektif Minat Mahasiswa
No.
Kriteria
Siklus 1
Siklus 2
1.
Kehadiran di kelas
88,46%
92,31%
2.
Perhatian dlm pelajaran
23,08%
63,46%
3.
Perhatian dlm keg. praktek
32,69%
57,69%
4.
Keaktifan mengerjakan LK
38,46%
59,62%
5.
Kelengkapan alat/sumber bljr
50,00%
61,54%
6.
Nilai Tertinggi
100
100
7.
Nilai Terendah
65
75
8.
Nilai Rata-Rata
85,10
91,83
9.
Ketuntasan Klasikal
100%
100%


b. Hasil Belajar Afektif Sikap
Data hasil belajar afektif sikap dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.6 Hasil Belajar Afektif Sikap Mahasiswa
No.
Kriteria
Siklus 1
Siklus 2
1.
Tanggung jawab
46,15%
63,46%
2.
Kejujuran
61,54%
73,08%
3.
Interaksi dengan dosen
36,54%
50,00%
4.
Teliti
19,23%
53,85%
5.
Sistematis
51,92%
63,46%
6.
Nilai Tertinggi
100
100
7.
Nilai Terendah
65
75
8.
Nilai Rata-Rata
85,38
90,19
9.
Ketuntasan Klasikal
100%
100%

c. Hasil Belajar Afektif Nilai Mahasiswa
Data hasil belajar afektif nilai mahasiswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.7 Hasil Belajar Afektif Nilai Mahasiswa
No.
Kriteria
Siklus 1
Siklus 2
1.
Bekerjasama dlm kelompok
30,77%
53,85%
2.
Menghargai pendapat org lain
59,62%
65,38%
3.
Menghargai waktu
42,31%
53,85%
4.
Kerapian
55,77%
63,46%
5.
Menggunakan peralatan dg seksama
25,00%
57,69%
6.
Nilai Tertinggi
100
100
7.
Nilai Terendah
65
65
8.
Nilai Rata-Rata
84,42
89,04
9.
Ketuntasan Klasikal
100%
100%

3.      Hasil Belajar Psikomotorik Mahasiswa
Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL didapatkan nilai dari lembar observasi di akhir siklus 1 dan akhir siklus 2. Data hasil belajar psikomotorik dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.8 Hasil Belajar Psikomotorik Mahasiswa
No.
Kriteria
Siklus 1
Siklus 2
1.
Mempersiapkan alat dan bahan
51,92%
65,38%
2.
Merangkai alat dan bahan
46,15%
69,23%
3.
Membaca hasil pengamatan
28,85%
53,85%
4.
Melakukan pengamatan
34,62%
73,08%
5.
Mengkomunikasikan data
42,31%
59,62%
6.
Nilai Tertinggi
100
100
7.
Nilai Terendah
55
75
8.
Nilai Rata-Rata
83,85
92,40
9.
Ketuntasan Klasikal
88,46%
100%

Secara keseluruhan, data hasil pelaksanaan siklus 2 adalah sebagai berikut:
 a. Hasil Analisis Kuesioner Mahasiswa
1. Skor rata-rata yang diperoleh mahasiswa setelah mengisi lembar kuesioner yaitu sebesar 70,67 yang termasuk dalam kategori sangat berminat.
2. Mahasiswa yang berminat yaitu 5 mahasiswa sedangkan 12 mahasiswa termasuk dalam kategori sangat berminat.

b. Hasil Belajar Kognitif Mahasiswa
1. Nilai rata-rata mahasiswa pada tes evaluasi siklus 2 sebesar 77,69 dengan ketuntasan klasikal sebesar 96,15%.
2. Setelah dilaksanakan tes di akhir siklus 2 terdapat 2 mahasiswa yang belum tuntas, sedangkan 15 mahasiswa sudah dinyatakan tuntas.
c. Hasil Belajar Afektif Mahasiswa
1. Nilai rata-rata afektif minat mahasiswa pada siklus 1 adalah 85,10 sedangkan pada siklus 2 meningkat menjadi 91,83 dengan ketuntasan klasikal sebesar 100%.
2. Nilai rata-rata afektif sikap mahasiswa pada siklus 1 adalah 85,38 sedangkan pada siklus 2 meningkat menjadi 90,19 dengan ketuntasan klasikal sebesar 100%.
3. Nilai rata-rata afektif nilai mahasiswa pada siklus 1 adalah 84,42 sedangkan pada siklus 2 meningkat menjadi 89,04 dengan ketuntasan klasikal sebesar 100%.
d. Hasil Belajar Psikomotorik Mahasiswa
1.  Nilai rata-rata psikomotorik mahasiswa pada siklus 1 adalah 83,85 dengan ketuntasan klasikal sebesar 88,46% sedangkan pada siklus 2 meningkat menjadi 92,40 dengan ketuntasan klasikal sebesar 100%.
2. Pada siklus 1, terdapat 2 mahasiswa dianggap belum tuntas belajar dan 15 mahasiswa dinyatakan sudah tuntas belajar. Sedangkan pada siklus 2, seluruh mahasiswa sudah dinyatakan tuntas belajar. Jadi, setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL), lembar kuesioner maupun soal tes yang telah diisi oleh mahasiswa setelah dianalisis hasil yang didapatkan meningkat menuju ke arah yang lebih baik.

B. PEMBAHASAN
Setelah dilaksanakan penelitian dan berdasarkan hasil penelitian pada siklus 1, dapat dijelaskan bahwa:
1.    Hasil analisis kuesioner mahasiswa siklus 1 terlihat bahwa nilai rata-rata hasil kuesioner mahasiswa meningkat dari 56,13 menjadi 64,83 yang termasuk dalam kategori berminat.
2.    Hasil belajar kognitif mahasiswa siklus 1 terlihat nilai rata-rata hasil tes mahasiswa meningkat dari 64,62 menjadi 75,50 dan ketuntasan belajar klasikal juga meningkat dari 53,85% menjadi 88,46%.
Sedangkan pelaksanaan tindakan pada siklus kedua, juga dapat dijelaskan bahwa:
1.    Hasil analisis kuesioner mahasiswa siklus pertama nilai rata-rata hasil kuesioner mahasiswa sebesar 64,83 dan termasuk kategori berminat. Kemudian, pada siklus 2 rata-rata hasil kuesioner mahasiswa meningkat menjadi 70,67 dan termasuk kategori sangat berminat.
2.    Hasil belajar kognitif mahasiswa siklus pertama terlihat bahwa nilai rata-rata hasil tes mahasiswa mengalami peningkatan, yaitu 75,50 dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 88,46%. Sedangkan pada siklus kedua nilai rata-rata hasil tes mahasiswa adalah 77,69 dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 96,15%.
3. Hasil belajar afektif minat mahasiswaterlihat bahwa pada siklus 1 dan siklus 2, nilai rata-rata hasil belajar afektif mahasiswa meningkat dari 85,10 menjadi 91,83 dengan ketuntasan klasikal sebesar 100%.
4. Hasil belajar afektif sikap mahasiswaterlihat bahwa pada siklus 1 dan siklus 2, nilai rata-rata hasil belajar afektif mahasiswa meningkat dari 85,38 menjadi 90,19 dengan ketuntasan belajar klasikal sebesar 100%.
5. Hasil belajar afektif nilai mahasiswa terlihat bahwa pada siklus 1 dan siklus 2, nilai rata-rata hasil belajar afektif nilai mahasiswa meningkat dari 84,42 menjadi 89,04 dengan ketuntasan klasikal sebesar 100%.
6. Hasil belajar psikomotorik mahasiswaterlihat bahwa pada siklus 1 dan siklus 2, nilai rata-rata hasil belajar psikomotorik mahasiswa meningkat dari 83,85 menjadi 92,40 dengan ketuntasan belajar klasikal meningkat dari 88,46% menjadi 100%.
            Dengan demikian, ikhtiar meningkatkan minat belajar mahasiswa dalam Mata Kuliah Kepemimpinan Pendidikan pokok bahasan Gaya Kepemimpinan melalui pendekatan CTL telah tercapai secara maksimal.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.  Minat belajar mahasiswa terhadap Mata Kuliah Kepemimpinan Pendidikan mengalami peningkatan dari kategori berminat menjadi kategori sangat berminat.
2.    Hasil belajar mahasiswa mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya minat belajar mahasiswa sesuai dengan aspek-aspek : a) Kognitif;  b) Afektif;  c) Psikomotorik.

B. Saran-Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti mengajukan saran-saran sebagai berikut:
1. Para dosen menguasai dan dapat menggunakan pendekatan CTL (contextual teaching and learning) dalam proses pembelajaran, khususnya pada Mata Kuliah Kepemimpinan Pendidikan.
2. Mahasiswa dapat meningkatkan secara terus menerus minat dan hasil belajarnya pada semua mata kuliah.


DAFTAR PUSTAKA
Anni, Catharina Tri. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES.

Arikunto, Suharsimi. 1987.  Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Diah Nugraheni. 2006. Skripsi: Meningkatkan Minat Belajar Mahasiswa Melalui CTL pada Pelajaran IPA Pokok Bahasan Cahaya Mahasiswa Kelas V semester II SDN Kedung Mundu 01Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007. UNS

Indrafachrudi, Soekarto. 1970. Pengantar Psikologi Pendidikan. Malang: IKIP Malang.

Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Kunandar. 2007. Guru Profesional; Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Press.

Kunandar. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rajawali Press

Mulyasa, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nasution. 2004. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Nurhadi. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL)). Jakarta: Depdiknas.

Nurkancana, W & Sumartana. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Priatiningsih, Titi. 2004. Pengembangan Instrumen Penilaian Biologi. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah.

Subino. 1987. Konstruksi dan Analisis Tes Suatu Pengantar Kepada Teori Tes dan Pengukuran. Jakarta: Depdikbud.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar