Senin, 26 Desember 2011

Beberapa Upaya Mengurangi Ke”lupa”an dan Ke”jenuh”an Belajar Siswa

a.      Peristiwa Lupa dan Jenuh dalam Belajar
Pengalaman sehari-hari menunjukkan kepada kita bahwa tidak semua yang kita alami melekat dalam ingatan kita. Para guru biasanya memandang lupa sebagai gejala yang menyedihkan yang seharusnya tidak ada, namun mau tak mau harus dihadapi. Hal ini membuat siswa memandang lupa sebagai suatu masalah yang cukup besar, sebagai nasib malang atau sebagai suatu kekuatan mistik yang menyerangnya serta meninggalkannya dalam keadaan terkalahkan dan tak berdaya lagi. Padahal, lupa adalah suatu gejala normal namun dapat dikurangi.
Peristiwa lupa tidak dapat diukur secara langsung, sering terjadi apa yang dinyatakan telah terlupakan justru pada suatu kondisi tertentu hal itu yang sangat diingat oleh siswa. Pada umumnya peristiwa lupa disebabkan oleh lamanya tenggang waktu antara saat terjadinya proses belajar sebuah materi dengan saat pengungkapannya. Namun hal ini nyaris tidak terbukti sebab beberapa kenyataan berbicara lain. Tidak selalu bahwa yang telah lama kita alami mudah menjadi lupa. Banyak orang-orang tua yang justru banyak mengingat dan menceritakan pengalaman-pengalaman masa kecilnya dengan jelas dan teratur daripada orang-orang yang baru menginjak setengah umur. Belum tentu pula bahwa sesuatu yang menyenangkan lebih lama kita ingat daripada sesuatu yang tidak menyenangkan. Kadang-kadang justru pengalaman yang sangat menyedihkan lebih berkesan dalam jiwa kita, sehingga sukar untuk dilupakan. Dalam kondisi seperti ini, sifat lupa memberi keuntungan bagi manusia.
Sedangkan kejenuhan belajar (learning plateau) adalah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendapatkan hasil. Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari belajar tidak ada kemajuan. Tidak adanya kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung selamanya. Namun tidak sedikit siswa yang mengalami rentang waktu yang membawa kejenuhan itu berkali-kali dalam 1 (satu) periode belajar tertentu.
Seorang siswa yang dalam keadaan jenuh sistem akalnya tak dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan dalam memproses item-item informasi atau pengalaman baru, sehingga kemajuan belajar seakan-akan “jalan ditempat”. Kejenuhan belajar dapat melanda seorang siswa yang kehilangan motivasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum sampai kepada tingkat keterampilan berikutnya.
b.     Faktor-faktor Penyebab “Lupa” dan “Jenuh”
Faktor-faktor penyebab “Lupa” adalah :
  1. Adanya gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori siswa. Dalam Anderson (1990), interference theory  atau  teori mengenai gangguan, gangguan konflik terbagi menjadi 2 macam, yaitu : 1) proactive interference dan; 2) retroactive preference.
  2. Adanya tekanan terhadap item yang telah ada baik sengaja ataupun tidak. Penekanan ini dapat terjadi karena beberapa kemungkinan yaitu :
    1. Karena item informasi yang diterima siswa kurang menyenangkan sehingga dengan sengaja menekannya hingga kealam ketidaksadaran.
    2. Item informasi yang baru secara otomatis menekan sistem informasi yang telah ada
    3. Item informasi yang akan direproduksi itu tertekan ke alam bawah sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah dipergunakan.
    4. Adanya perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dn waktu mengingat kembali
    5. Adanya perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan dan situasi belajar tertentu.
    6. Materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan sehingga tersebut dengan sendirinya akan masuk kealam bawah sadar atau mungkin juga bercampur aduk dengan materi pelajaran baru.
    7. Apabila item informasi yang diserap siswa rusak sebelum masuk kememori permanent. Item yang rusak (decay) itu tidak hilang dan tetap diserap oleh sistem memori siswa, tetapi terlalu lemah untuk dipanggil kembali. Kerusakan item informasi tersebut mungkin disebabkan oleh tenggang waktu (delay) antara saat diserapnya item informasi dengan saat proses pengkodean dan transformasi dengan memori jangka pendek siswa tersebut.
Faktor-faktor penyebab “Jenuh” adalah :
  1. Kehilangan motivasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum sampai kepada tingkat keterampilan berikutnya.
  2. Adanya rasa bosan (booring)
  3. Keletihan (faatique)
Menurut Cross (1974) dalam bukunya The Psycology of Learning, keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi 3 macam, yaitu :
  1. Keletihan indera siswa
  2. Keletihan fisik siswa
  3. Keletihan mental siswa
Faktor yang mempengaruhi timbulnya keletihan mental pada diri sorang siswa adalah :
1)    Adanya kecemasan siswa terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh keletihan itu sendiri
2)    Karena kecemasan siswa terhadap standar/patokan keberhasilan yang terlalu tinggi terutama ketika siswa tersebut sedang merasa bosan terhadap hal tersebut
3)    Karena siswa berada di tengah-tengah situasi kompetitif ketat dan menuntut lebih banyak kerja keras otak
4)    Karena siswa mempercayai konsep kinerja akademik yang optimum, sedangkan dia sendiri menilai belajarnya hanya berdasarkan ketentuan yang ia bikin sendiri (self imposed)
c.      Beberapa Upaya Mengurangi ke”Lupa”an dan ke”Jenuh”an Belajar Siswa
Beberapa upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalis atau mengurangi “Lupa” adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa. Diantaranya dengan : overlearning, extra study time dan maemonic device.
Sedangkan untuk menghindari rasa jenuh adalah dengan istirahat yang cukup, tidur nyenyak, dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup bergizi. Sementara pada kondisi yang lebih berat dimana terjadi keletihan mental, dapat diatasi dengan beberapa upaya berikut :
  1. Melakukan istirahat dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dengan takaran yang cukup banyak
  2. Pengubahan atau penjadwalan kembali jam-jam dari hari-hari belajar yang dianggap lebih memungkinkan siswa belajar lebih giat
  3. Pengubahan atau penataan kembali lingkungan belajar siswa yang meliputi pengubahan posisi meja tulis, lemari dan lain-lain yang memungkinkan siswa merasa berada disuatu kamar baru yang lebih menyenangkan untuk belajar
  4. Memberikan motivasi atau stimulasi baru agar siswa merasa terdorong untuk belajar lebih giat daripada sebelumnya.
  5. Siswa harus mau berbuat nyata (tidak menyerah atau tinggal diam) dengan cara mencoba belajar dan belajar lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar