Senin, 26 Desember 2011

KESULITAN BELAJAR SISWA Masalah dan Solusi Edukatifnya

Pada prinsipnya setiap siswa berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik yang memuaskan. Namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan siswa yang lainnya.
Sementara itu penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah pada umumnya ditujukan kepada siswa yang berkemampuan rata-rata, sehingga siswa yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Dengan demikian, siswa-siswa yang berkategori “di luar rata-rata” itu tidak mendapat kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kapasitasnya. Dari sini kemudian timbullah apa yang disebut dengan kesulitan belajar (learning difficulty).
Kesulitan belajar dapat pula dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata (normal) yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor tertentu yang menghambat tercapainya kinerja akademik yang sesuai dengan harapan.
  1. a.   Faktor penyebab kesulitan belajar (learning difficulty).
Fenomena belajar siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya (hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam suatu bidang studi tertentu dengan menggunakan tes belajar). Namun, kesulitan belajar juga dapat dilihat dari munculnya kelainan perilaku (misbehavior).
Faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar yang mempengaruhi hasil belajar siswa terdiri atas dua macam, yakni :
  1. Faktor Intern
Faktor intern maksudnya adalah faktor dari dalam diri siswa yang mempengaruhi hasil belajarnya, seperti faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah meliputi: kesehatan, cacat tubuh/badan seperti tuli, buta, lumpuh, dan sebagainya. Faktor psikologis, meliputi intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, sikap, kematangan dan kesiapan. Faktor kelelahan, dapat dibedakan atas:
a)    Kelelahan jasmani, ditandai dengan lemah lunglainya tubuh mengakibatkan timbulnya kecenderungan untuk membaringkan tubuh.
b)    Kelelahan rohani, ditandai dengan adanya kelesuan, kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk berajar menjadi kurang atau hilang.
  1. Faktor Ekstern
Faktor Eksternal dimaksudkan adalah faktor dari luar diri siswa yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, yang dapat menimbulkan kesulitan belajar, dapat dikelompokan atas tiga faktor yaitu:
1)    Faktor dari lingkungan keluarga, dapat berupa;
a)    Cara orang tua mendidik;
b)    Relasi/ ahubungan antara anggota keluarga;
c)    Suasana dalam rumah tangga;
d)    Kebudayaan atau kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dalam rumah tangga;
e)    Perhatian orang tua/ wali; dan
f)     Keadaan sosial-ekonomi orang tua termasuk tingkat pendidikan orang tua/wali.
2)    Faktor dari sekolah, dapat berupa antara lain:
a)    Metode mengajar guru;
b)    Cara guru mengelola kelas;
c)    Relasi guru dengan siswa;
d)    Disiplin sekolah; dan
e)    Alat-alat pelajaran/ perlengkapan sekolah.
3)    Faktor dari masyarakat
Ada beberapa hal yang mempengaruhi hasil belajar siswa dalam hubungannya dengan masyarakat, antara lainl:
a)    Bentuk kehidupan masyarakat
Apabila orang-orang berada dalam masyarakat tidak terdiri, permabukan/ minum minuman keras, penjudi, pencuri dan lain-lain sebagainya, turut mempengaruhi siswa yang berada dalam masyarakat tersebut.
b)    Teman bergaul
Teman yang memberi efek negatif terhadap kegiatan belajarnya.
Selain dua faktor diatas, adapula faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa. Diantara faktor-faktor yang di pandang sebagai faktor khusus ialah sindrom psikologis berupa ketidakmampuan belajar (learning disability).
  1. b.  Diagnosis kesulitan belajar (learning difficulty).
Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini di kenal sebagai “diagnostik” kesulitan belajar.
Ada beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan guru dalam mendiagnosa kesulitan belajar siswa, diantaranya seperti yang dikemukakan Wardani dalam Muhibbin (1999:143) sebagai berikut :
  1. Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran
  2. Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar
  3. Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar
  4. Memberikan tes diagnostic tes kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
  5. Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
    1. c.   Kiat Mengatasi kesulitan belajar (learning difficulty).
Banyak alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi sebelum pilihan tersebut diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa lagkah penting meliputi :
  1. Menganalisis hasil diagnosis
  2. Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan
  3. Menyusun program perbaikan, khususnya program remedial teaching.
Wertheimer dalam Masdin (2007:65) menyesalkan metode menghafal disekolah dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian, bukan hafalan akademis. Hafalan bagi sebagian besar siswa adalah salah satu faktor kesulitan belajar. Menurut pandangan Gestaltis, semua kegiatan belajar (baik pada simpanse maupun pada manusia) menggunakan insight atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan antara bagian dan keseluruhan. Tingkat kejelasan atau keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan belajar seseorang daripada dengan hukuman dan ganjaran.
Hal terpenting lain yang harus diperhatikan oleh seorang guru yang harus dipahami sebelum mengajar untuk meminimalisasi kesulitan belajar yang akan di hadapi oleh siswa adalah mengetahui aspek-aspek yang akan dicapai dalam belajar. Menurut A.De Block ada tiga aspek yang harus dicapai dalam belajar yaitu : (1) aspek kognitif, yang mencakup pengetahuan dan kemahiran-kemahiran intelektual, (2) aspek dinamik-afektif, yang mencakup perasaan, minat, motivasi, sikap kehendak, nilai. (3) aspek sensorik motorik meliputi proses pengamatan dan gerakan-gerakan motorik (Winkel,1999:62).
Untuk mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, guru harus dapat menyadari beberapa prinsip belajar yang berharga yang kemudian terapkannya di dalam kelas, antara lain :
  1. Manusia bereaksi terhadap lingkungan secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional, sosial dan sebagainya. Untuk prinsip ini maka siswa diarahkan untuk mampu berkomunikasi dengan baik, mengedepankan kesantunan dan dilatih secara mental agar dapat berbicara didepan umum.
  2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Pada prinsip kedua ini, guru mengarahkan siswa agar dapat bertindak dan berbuat sesuai dengan apa yang dipelajarinya dan dari lingkungan disekitarnya serta dapat belajar dari pengalaman.
  3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan dari foetus atau bayi dalam kandungan sempai dewasa. Dalam tiapfase perkembangan manusia itu senantiasa manusia lengkap yang berkembang dalam segala aspek-aspeknya. Untuk itu siswa harus di pacu untuk lebih banyak tahu hari ini daripada hari kemarin dengan cara memberikan pengertian bahwa ilmunya tidak boleh jalan ditempat tetapi harus di tambah dengan banyak membaca referensi lain di luar referensi yang di berikan di kelas.
  4. Belajar adalah perkembangan ke arah deferensial yang lebih luas. Pada prinsip ini kita mengarahkan siswa untuk memecahkan masalah dengan melihat masalah itu secara keseluruhan dan kemudian bagian-bagiannya, yang dilatih adalah cara siswa menganalisis segala persoalan.
  5. Belajar hanya berhasil bila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. Untuk itu siswa diarahkan untuk memecahkan masalah didalam kelas dalam bentuk diskusi agar pemahamannya datang dari mereka sendiri.
  6. Belajar tidak mungkin tanpa kemauan untuk belajar. Guru harus terus memotivasi siswa, sebab motivasi memberi dorongan yang menggerakkan seluruh organisme.
  7. Belajar berhasil kalau ada tujuan yang mengandung arti bagi individu. Pada prinsip ketujuh ini, siswa dapat diberikan pengertian bahwa setiap pelajaran yang diajarkan sangat berguna jika mereka ingin terjun ke dunia pendidikan baik formal maupun informal, dan berguna bagi mereka ketika telah berumah tangga, serta bagaimana untuk mengajarkan anak-anak mereka, agar mereka antusias di dalam proses belajar-mengajar.
  8. Dalam proses belajar, anak itu senantiasa merupakan suatu organisme yang aktif, bukan suatu bejana yang harus diisi, atau suatu otomat yang digerakkan oleh orang lain. Prinsip kedelapan ini merupakan acuan bagi guru untuk memberikan keleluasaan bagi siswa untuk mengembangkan buah fikiran mereka, tanpa batas; dan menganggap siswa sebagai partner di dalam berteori bukan sebagai makhluk yang paling tahu di kelas.
Di dalam kelas, guru juga harus menerapkan konsep bahwa belajar dirangsang dengan adanya suatu problema, masalah atau soal, agar insight dalam diri siswa dapat keluar dari persembunyiannya dan mencoba mencari pemecahan masalahnya. Hal ini lebih efektif untuk mendewasakan siswa dalam memecahkan masalah dan mengurangi kesulitan belajar siswa. Bagaimanakah seseorang memecahkan masalah itu. Dewey dalam Nasution (1982:47) melihat dalam pemecahan masalah itu ada 5 langkah yaitu :
  1. Menyadari adanya suatu masalah. Kita harus memahami apa masalahnya. Kita harus dapat merumuskannya, sehingga masalah itu mendapat batasan yang jelas. Selanjutnya masalah itu harus dianalisis.
  2. Memajukan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban atau jalan yang mungkin memberi pemecahan masalah itu.
  3. Mengumpulkan data atau keterangan dengan mengadakan bacaan atau mencarinya dari sumber-sumber lain seperti observasi, eksperimen.
  4. Menilai dan mencobakan hipotesis itu. Dengan keterangan-keterangan yang diperoleh ada kemungkinan salah satu hipotesis itu memberi jalan ke arah pemecahan masalah itu.
  5. Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau berbuat sesuatu berdasarkan pemecahan soal itu.
Cara memecahkan masalah seperti diatas disebut the method of intelelligence, the method of problem solving, atau the scientific method yakni metode dengan menggunakan intelegensi, metode pemecahan masalah, atau metode ilmiah, sebab banyak dilakukan dalam pemecahan masalah-masalah ilmiah.
Menurut Nasution (2003:101), tiap proses belajar memerlukan bahan pelajaran tertentu. Namun proses dan produk tidak dapat dipisahkan.
Sumber bacaan :
Masdin. (2007). Psikologi Belajar. Kendari: Unhalu Press.
Muhibbin, Syah. (1999), Psikologi Belajar, Jakarta: PT. Raja Grafindo Perkasa.
Nasution, S. (2003). Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Nasution, S. (1982). Didaktik Azas-Azas Mengajar. Bandung: Jemmars.
Wingkel. (1999). Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar