Senin, 26 Desember 2011

PEMBELAJARAN DI SEKOLAH : ANTARA KENYATAAN DAN KEMESTIAN ( dalam tinjauan Persfektif Psikologi Pendidikan)

Oleh : Irma Irayanti

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran. Ada dua konsep kependidikan yang sangat berkaitan, yaitu belajar (learning) dan pembelajaran (intruction). Konsep dasar belajar berakar pada pihak peserta didik dan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik. (GBPP SMA Kurikulum, 1999:4)
Dalam proses belajar mengajar (PBM) terjadi interaksi antara peserta didik dan pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai pencari, penerima pelajaran yang dibutuhkannya, sedang pendidik adalah seorang guru atau sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan belajar-mengajar dan seperangkat peranan lainnya yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar yang efektif. (Sugiyono, 2000:23)
a.      Tujuan Pembelajaran dan Metodologi Pengajaran
Kegiatan belajar-mengajar melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta didik, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pembelajaran, metode mengajar, media dan evaluasi. Tujuan pembelajaran adalah perubahan perilaku dan tingkah laku yang positif dari peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar-mengajar, seperti : perubahan yang secara psikologis akan tampil dalam tingkah laku (over behavior) yang dapat diamati melalui alat indera oleh orang lain baik tutur katanya, motorik dan gaya hidupnya.
Tujuan pembelajaran yang diinginkan tentu yang optimal, untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik, salah satu diantaranya yang menurut penulis penting adalah metodologi pengajaran.
Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya. Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik, karena keberhasilan proses belajar-mengajar (PBM) bergantung pada cara mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan-santunnya, motorik dan gaya hidupnya. (Ischak dan Warji, 1982:50)
Metodologi mengajar banyak ragamnya, kita sebagai pendidik tentu harus memiliki metode mengajar yang beraneka ragam, agar dalam proses belajar-mengajar tidak menggunakan hanya satu metode saja, tetapi harus divariasikan, yaitu disesuaikan dengan tipe belajar siswa dan kondisi serta situasi yang ada pada saat itu, sehingga tujuan pengajaran yang telah dirumuskan oleh pendidik dapat terwujud/tercapai.
Siswa sebagai subyek dalam proses belajar-mengajar ternyata memiliki keunikan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Ada siswa yang cepat dalam belajar karena kecerdasannya sehingga dia dapat menyelesaikan kegiatan belajar-mengajar lebih cepat dari yang diperkirakan, adapula siswa yang lambat dalam belajar, yaitu golongan siswa yang sering ketinggalan pelajaran dan memerlukan waktu yang lebih lama dari waktu yang diperkirakan untuk siswa normal, ada siswa yang kreatif yang menunjukkan kreatifitas dalam kegiatan-kegiatan tertentu dan selalu ingin memecahkan persoalan-persoalan, ada siswa yang berprestasi kurang, yang sebenarnya siswa ini mempunyai taraf intelegensi tergolong tinggi akan tetapi prestasi belajarnya rendah, dan adapula siswa yang gagal dalam belajar sehingga tidak selesai dalam studinya disekolah.
Untuk itu guru berupaya memahami karakteristik siswa-siswanya dan dapat melakukan pendekatan dalam belajar-mengajar sebagai upaya mengoptimalisasikan hasil belajar, sebab tanpa pendekatan ini hasil belajar tidak akan diperoleh dengan sebaik-baiknya. Strategi pembelajaran adalah salah satu upaya yang perlu diperhatikan oleh guru dalam pengajaran sosiologi.
b.    Strategi pembelajaran
Strategi pembelajaran yang lengkap, komponen-komponennya meliputi : kegiatan pra pembelajaran, penyajian informasi, partisipasi peserta didik, tindak lanjut dan testing. Pada komponen tindak lanjut pembelajaran, kegiatan yang dapat dilakukan berupa pengayaan (enrichment), dari keseluruhan proses pembelajaran komponen iniyang jarang dilakukan oleh guru. Oleh sebab itu wajar kalau peserta didik mengalami kesulitan belajar, karena setiap tahapan dan langkah belajar belum mencapai ketuntasan belajar disisi lain kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan bahan ajar berikutnya. (Soenarto Tjitrowinoto, 1984:33)
Pada suatu suasana belajar yang konvensional menunjukkan bahwa pada saat pembelajaran berlangsung, guru cenderung mendominasi kegiatan pembelajaran di kelas, dalam pelaksanaannya guru memegang kendali, memainkan peran aktiv. Sedangkan siswa cenderung pasif dalam menerima informasi,  pengetahuan dan keterampilan dari guru. Akibatnya, siswa-siswa yang tadinya kreatif dan kritis menjadi apatis dalam pembelajaran.
Leighbody (1966:3) mengungkapkan bahwa telling is not teaching, listening is not learning, and watching is not learning, but all three may need to be used to assist learning. Dari ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa guru ndalam mengajar tidak hanya sekedar ceramah, dan murid tidak hanya mendengar dan memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru, walaupun ketiganya diperlukan dalam pembelajaran. Implikasi dari pandangan Leighbody tersebut bahwa mengajar memerlukan suatu strategi agar terjadi interaksi antara guru dengan siswanya.
Strategi pengajajaran berkenaan dengan bagaimana penyajian materi pembelajaran agar dapat meningkatkan hasil belajar. Suatu pembelajaran harus memenuhi kriteria; (1) daya tarik, (2) daya guna (efektivitas), (3) hasil guna (efisiensi). Agar proses pembelajaran efektif maka perlu menggunakan strategi pembelajaran yang dapat menunjang keberhasilan peserta didik atau mencapai tujuan pendidikan yang telah direncanakan.
Selanjutnya berkaitan dengan komponen strategi pembelajaran, Gagne dan Brigs (1992:238) menyebutkan terdapat sembilan urutan kegiatan pembelajaran (intruksional), yaitu : (1) memberikan motivasi atau menarik perhatian, (2) menjelaskan tujuan instruksional kepada siswa, (3) mengingatkan kompetensi prasyarat, (4) memberi stimulus yaitu menyajikan materi pembelajaran (masalah, topik, konsep), (5) memberi petunjuk belajar (cara mempelajari), (6) menimbulkan penampilan siswa, (7) memberikan umpan balik, (8) menilai penampilan, (9) menyimpulkan.
Strategi yang diajukan oleh Gagne ini lebih dikenal dengan nama “ peristiwa pembelajaran”, merupakan urutan dalam mengatur kondisi eksternal agar informasi yang diberikan kepada si-belajar dapat diterima dan diperankan dengan baik. Informasi itu dapat diterima melalui semua panca indera yang berfungsi sebagaimana mestinya. Strategi ini berlaku secara umum, bvaik pada situasi belajar misalnya belajar kelompok (dalam jumlah pelajar yang besar sekaligus), maupun belajar mandiri, pada semua mata pelajaran maupun pada sutu pokok sajian pelajaran.
Briggs dan Wager dalam Suparman (1997:156) mengemukakan bahwa tidak semua pelajaran memerlukan seluruh sembilan urutan kegiatan tersebut, tergantung kepada karakteristik siswa dan jenis perilaku yang ada dalam tujuan pembelajaran. Penggunaan dari sembilan urutan tersebut masih dimungkinkan sepanjang alasan secara rasionalnya jelas.
Istilah strategi instruksional yang digunakan oleh Joice dan Weil (1996:6) adalah model-model mengajar, yaitu suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, mendesain materi pelajaran, dan untuk pedoman kegiatan belajar mengajar didalam kelas maupun ditempat lain. Ada banyak cara untuk belajar, sehingga dibutuhkan metode pembelajaran yang berbeda pula. Dengan banyak ragam metode pembelajaran yang ada, ternyata masing-masing metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, ketetapan metode pembelajaran yang dipilih tentu harus disesuaikan dengan tujuan dari materi pelajaran yang akan diajarkan. Dengan demikian metode dapat diartikan juga sebagai suatu cara yang sistematik yang umum yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Sedangkan Dick and Carey (1996:183) memandang strategi pembelajaran sebagai penjelasan tentang komponen-komponen umum dari suatu perangkat (set) bahan pembelajaran dan prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan itu untuk menghasilkan suatu hasil belajar tertentu pada siswa, mengemukakan bahwa komponen dari strategi pembelajaran adalah kegiatan pembelajaran, penyajian informasi, partisipasi siswa, tes, dan tindak lanjut.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran pada hakikatnya berkenaan dengan; (1) urutan kegiatan pembelajaran, yaitu tahap-tahap yang perlu dilalui atau diikuti dalam penyajian materi pembelajaran, (2) metode atau tekhnik pembelajaran, yaitu prosedur pengorganisasian bahan dan pengelolaan siswa dalam proses pembelajaran, (3) media pembelajaran, yaitu peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan sebagai media dalam proses belajar-mengajar, dan (4) peran, yaitu pembagian peran (fungsi) antara pengajar dan pelajar dalam proses pembelajaran.
c.   Strategi Pembelajaran Konvensional dan Kooperatif (antara kenyataan dan kemestian)

Kualitas pembelajaran selalu terkait dengan penggunaan strategi pembelajaran yang optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ini berarti bahwa untuk mencapai kualitas pembelajaran yang tinggi, materi pelajaran harus diorganisasi melalui strategi pengorganisasian yang tepat, dan selanjutnya disampaikan kepada siswa dengan strategi pembelajaran yang tepat pula. Strategi pengorganisasian dapat dilakukan terhadap isi materi pelajaran, atau pengorganisasian terhadap siswa. Salah satu strategi pengorganisasian terhadap siswa adalah strategi pembelajaran kooperatif. Strategi pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompoknya untuk mencapai tujuan belajar (Johnson and johnson, 1987:5).
Namun pada kenyataannya banyak pengajar yang masih menggunakan strategi pembelajaran yang konvensional. Strategi pembelajaran konvensional merupakan strategi pembelajaran yang berpusat pada guru yang menggunakan urutan kegiatan pembelajaran uraian, contoh, dan latihan. Kegiatan pembelajaran dimulai dari uraian guru untuk menjelaskan bahan ajar disertai contoh-contoh, kemudian siswa mencatat, bertanya dan guru menjawab, selanjutnya diakhiri dengan latihan sebagai umpan balik. Karena strategi pembelajaran konvensional berfokus pada guru, sehingga materi ajar disampaikan langsung oleh guru. Dengan demikian guru menggunakan pendekatan pembelajaran langsung (Direct Intruction). Dengan pendekatan ini siswa menghabiskan sebagian waktu untuk mendengar pengajaran langsung dari guru terutama dalam mengembangkan keterampilan menguasai materi yang diajarkan dan kemudian dilanjutkan dengan aktivitas pemantapan seperti latihan dibawah bimbingan guru atau asisten guru (Alwi Suparman, 1999:110).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar