Senin, 26 Desember 2011

PENERAPAN TEORI GESTALT (COGNITIVE GESTALT FIELD) PADA MATA KULIAH METODOLOGI PENGAJARAN AGAMA ISLAM DI JURUSAN DAKWAH STAIN KENDARI

A.    PENDAHULUAN
Teori Gestalt adalah anak dari aliran belajar psikologi kognitif. Teori belajar kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar Gestalt. Peletak dasar psikologi Gestalt adalah Mex Wertheimer (Masdin, 2007:64), yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya ini didikuti oleh Kurt Koffka yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan; kemudian Wolfgang Kohler yang meneliti tentang insight pada simpanse. Penelitian-penelitian mereka menumbuhkan Psikologi Gestalt yang menekankan bahasan pada masalah konfigurasi, struktur dan pemetaan dalam pengalaman. Kaum Gestalis berpendapat, bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Orang yang belajar, mengamati stimulus dalam keseluruhan yang terorganisasi, bukan dalam bagian-bagian yang terpisah.
Konsep penting dalam teori Gestalt adalah tentang insight. Menurut Woolfolk (1995) insightadalah pengamatan/pemahaman mendadak terhadap hubungan antar bagian-bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Insight itu sering dihubungkan dengan pernyataan spontan “aha”atau “oh, I see now”. Kohler menemukan tumbuhnya insight pada seekor simpanse dengan menghadapkan simpanse pada masalah bagaimana memperoleh pisang yang terletak diluar kurungan atau tergantung diatas kurungan. Dalam eksperimen itu, Kohler mengamati, bahwa kadangkala simpanse dapat memecahkan masalah secara mendadak, kadangkala gagal meraih pisang, kadangkala duduk merenungkan masalah, dan secara tiba-tiba menemukan pemecahan masalah.
Menurut Wertheimer dalam Masdin (2007:65) seorang Gestalis yang mula-mula menghubungkan pekerjaan dengan proses belajar dikelas. Dari pengamatannya, ia menyesalkan metode menghafal disekolah dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian, bukan hafalan akademis. Menurut pandangan Gestaltis, semua kegiatan belajar (baik pada simpanse maupun pada manusia) menggunakan insight atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan antara bagian dan keseluruhan. Tingkat kejelasan atau keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan belajar seseorang daripada dengan hukuman dan ganjaran.
B.     DESKRIPSI TENTANG “TEORI”
Mengenai apakah teori itu, telah ada kesepakatan diantara para ahli, tetapi juga ada beberapa perbedaan pendapat. Kesepakatan yang telah diterima secara umum, bahwa teori merupakan suatu set atau sistem pernyataan (a set of statement) yang menjelaskan serangkaian hal. Ketidaksepakatannya terletak pada karakteristik pernyataan tersebut. (Sukmadinata, 2001:17)
Diantara sekian banyak pendapat yang berbeda,  ada tiga kelompok karakteristik utama sistem pernyataan suatu teori. Pertama, pernyataan dalam suatu teori bersifat memadukan (unifying statement). Kedua, pernyataan tersebut berisi kaidah-kaidah umum (universal preposition). Ketiga, pernyataan bersifat meramalkan (predictive statement). Karakteristik memadukan (unifying statement) banyak disetujui oleh para perumus teori, seperti yang dikemukakan Kaplan (1964:295).
A theory is a way of making sense of a distrubing situation, so as to allow us most effektivelly to bring to bear our reverfoice of habits, and even more inportent, to modify habist or discard them together, reflacing new ones as the situation demands. And the reconstructed logic, acordingly, theory will appear as the device for interpreting, criticizing, and unifying established laws, modifying them to fit data unanticipated in their formation, and guiding the enterprise of discofering new and more powerful generalizations.
Hall dan Lindzey (1970:11) menekankan yang sama yaitu sifat unifying, seperti mereka nyatakan bahwa”...a theory is set of conventions that should contain a cluster of relevant assumption systematically related to each other and a set of empirical devinitions”.
Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Snow (1973:78).
In ist simplest form, a theory is a symbolic intruction designed to bring generizable fact (or laws) into systematic connection. It consist of : a) a set of units (facts, concepts, variables), and b) a system of realitonships among the units.

Dengan  bermacam-macam rumusan teori itu diharapkan sampai pada suatu kesimpulan, walaupun bersifat tentatif bahwa suatu teori lahir  dari suatu proses, yang berbeda dengan yang lainya. Suatu teori hanya menjelaskan yang terbatas, teori lain menjelaskan yang lebih luas.
Teori menjelaskan suatu kejadian. Kejadian ini bisa sangat luas atau sangat sempit. Suatu kejadian yang dijelaskan suatu teori menunjukan suatu set yang universal. Set universal ini dibentuk oleh tiga bagian. Bagian pertama, kejadian yang diketahui, yang dinyatakan sebagai fakta, hukum, atau prinsip. Bagian kedua yang dinyatakan sebagai asumsi, proposisi, dan postulat. Bagian ketiga adalah bagian dari set universal atau bagian dari keseluruhan yang belum diketahui.
Beauchamp (1975:15) membedakan tiga kelompok istilah, yaitu “ general language terms, basic concepst, dan theoritical contructs”. General language term merupakan istilah-istilah yang digunakan dalam ilmu pengetahuan atau bahasa secara umum. Istilah-istilah tersebut tidak perlu didefinisikan secara operasional karena telah dikenal secara umum. The basic concept merupakan istilah-istilah yang sangat dasar dan penting dalam menjelaskan suatu set kejadian, oleh karenanya perlu didefinisikan secara operasional. Sebagai contoh, istilah molekul dalam kimia, istilah kurikulum dalam pendidikan. Yang ketiga adalah theoretical costruct, yang akan dijelaskan merupakan istilah yang punya makna khusus dalam set kejadian yang akan dijelaskan suatu teori, tetapi tidak dapat diketahui melalui pengamatan langsung. Contoh istilah minat, kebutuhan dalam pengajaran.
C.    FUNGSI “TEORI”
Menurut Sukmadinata (2001:20) minimal ada tiga fungsi teori yang sudah disepakati para ilmuan yaitu (1) mendeskripsikan, (2) menjelaskan, dan  (3) memprediksi.
Dalam usaha mendeskripsikan, menjelaskan, dan membuat prediksi, para ahli terus mencari dan menemukan hukum-hukum baru dan hubungan-hubungan baru diantara hukum-hukum tersebut. Melalui proses demikian mungkin terjadi di dalam suatu “set kejadian”’ semua hukum dan interealasinya dapat dinyatakan dalam teori telah berkembang menjadi hukum yang lebih tinggi. Para ahli mencari hubungan baru dengan menggabungkan beberapa “set kejadian’ menjadi suatu “set kejadian yang baru yang lebih universal’. Hal itu mendorong pencarian dan pengkajian selanjutnya, untuk menemukan hukum-hukum baru dan hubungan baru dalam suatu teori baru. Fungsi yang lebih besar dari suatu teori adalah melahirkan teori baru.
Mouly (1970:70) mengemukakan ciri-ciri suatu teori yang baik, yaitu;
  1. 1.      A theoretical system must permit deduction which be tested empirically.
  2. 2.      A theory must be compatible both with obsevation and with prepeously validated theories,
  3. 3.      Theories must be stated in simple trems, that theory is best which explain the most in the simplest form,
  4. Scientific theories must be based on empirical facts and realitonships.
  1. D.    TEORI GESTALT
Dalam teori belajar ada tiga keluarga atau rumpun teori belajar, yaitu teori disiplin mental, behaviorisme, dan Cognitive Gestalt Field. Teori belajar pertama dari Cognitive Gestalt Field adalah teori insight. Aliran ini bersumber dari psikologis gestalt Field. Menurut mereka belajar adalah proses pengembangan insight atau pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama. Pemahaman terjadi apabila individu menemukan cara baru dalam menggunakan unsur-unsur yang ada dalam lingkungan, termasuk stuktur tubuhnya sendiri. Gestalt Field melihat bahwa belajar itu merupakan perbuatan yang bertujuan, eksploratif, imajinatif, dan kreatif. Pemahaman atau insight merupakan citra dari atau perasaan tentang pola-pola atau hubungan.
To state it differently, instigh is the sensed way through or of problamatic situation.... we might say an insight is a kind of intelligen feel we get about a situation that permits us to continue to strive actively to sarve our purposes. (Bigge dan Hunt, 1980:293).
Teori belajar goal insight berkembang dari psikologi configurationlism. Menurut mereka, individu selalu berinteaksi dengan lingkungan. Perbuatan individu selalu bertujuan, diarahkan kepada pembentukan hubungan dengan lingkungan. Belajar merupakan usaha untuk mengembangkan pemahaman tingkat tinggi. Pemahaman yang bermutu tinggi (tingkat tinggi) adalah pemahaman yang telah teruji, yang berisi kecakapan menggunakan suatu objek, fakta, proses, ataupun ide dalam berbagai situasi. Pemahaman tingkat tinggi memungkinkan seseorang bertindak inteligen, berwawasan luas, mampu memecahkan berbagai masalah.
Teori belajar cognitive field (teori Gestalt) bersumber pada psikologi lapangan (field psikology), maka dari itu teori Gestalt sering juga dikatakan sebagai teori lapangan atau field theory, dengan tokoh utamanya Kurt Lewin. Individu selalu berada dalam suatu lapangan psikologis yang oleh Lewin disebut life space. Dalam lapangan ini selalu ada tujuan yang ingin dicapai, dan motif yang mendorong pencapaian tujuan dan ada hambatan-hambatan yang harus diatasi.  Perbuatan individu selalu terarah kepada pencapaian sesuatu tujuan, oleh karena itu sering dikatakan perbuatan individu adalah purposive. Apabila ia telah berhasil mencapai suatu tujuan maka timbul tujuan lain yang ingin dicapai dan berada dalam life spacebaru. Setiap orang berusaha mencapai perkembangan dan pemahaman yang terbaik didalam lapangan psikologisnya masing-masing. Lapangan psikologis terbentuk oleh interelasi yang simultan dari orang-orang dan lingkungan psikologisnya di dalam suatu situasi. Tingkah laku seseorang pada suatu saat merupakan fungsi dari semua faktor yang ada yang saling tergantung pada yang lain.
Teori Gestalt berpendirian bahwa keseluruhan lebih dan lain daripada bagian-bagiannya, bahwa manusia adalah organisme yang aktif berusaha mencapai tujuan, bahwa bertindak atas berbagai pengaruh didalam dan di luar  individu.
Menurut teori Gestalt seorang belajar jika ia mendapat insightInsight itu diperoleh bila ia melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam situasi itu, sehingga hubungan itu menjadi jelas baginya dan dengan demikian dapat memecahkan masalah yang timbul.
Menurut Nasution (1982:46) timbulnya insight tergantung pada :
  1. Kesanggupan, kematangan dan intelegensi individu. Anak-anak yang terlampau muda atau bodoh tidak sanggup memecahkan suatu soal karena tidak memperoleh “insight” dalam seluk beluk masalah itu.
  2. Pengalaman seseorang. Seorang montir lebih muda memperoleh insight dalam soal-soal mesin daripada guru besar ang tak mempunai pengalaman di bidang itu.
  3. Sifat atau taraf kompleksitas situasi. Kalau situasi itu terlampau kompleks, kita tidak sanggup memperoleh insight sehingga masalah itu tak terpecahkan.
  4. Latihan. Dengan latihan-latihan kita dapat mempertinggi kesanggupan memperoleh insight dalam situasi-situasi yang bersamaan yang telah banyak dihadapi sebelumnya.
  5. 5.        Trial-and-error. Sering tak segera kita lihat jalan untuk memecahkan suatu masalah. Setelah mengadakan beberapa percobaan kita mendapat gambaran yang lebih jelas tentang hubungan antara berbagai unsur dalam problema itu, sehingga akhirnya kita memperoleh insight dan kita pecahkan masalah itu.
E.     PENERAPAN TEORI GESTALT PADA MATA KULIAH METODOLOGI PENGAJARAN AGAMA ISLAM DI JURUSAN DAKWAH STAIN KENDARI
Sebelum dibahas lebih lanjut tentang penerapan teori Gestalt pada mata kuliah Metodologi Pengajaran Agama Islam di Jurusan Dakwah STAIN Kendari, lebih dulu kita mengenal mata kuliah yang akan diterapkan dari anak dari aliran psikologi kognitif ini. Mata kuliah Metodologi Pengajaran Agama Islam adalah mata kuliah muatan lokal pada jurusan Dakwah STAIN Kendari, mata kuliah ini diajarkan pada semester V (lima) pada program studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan Bimbingan penyuluhan Islam (BPI). Sebenarnya mata kuliah ini adalah mata kuliah ketarbiyahan namun dijadikan sebagai mata kuliah muatan lokal oleh jurusan Dakwah dengan maksud apabila suatu saat alumni Dakwah mengambil akta IV maka diharapkan mata kuliah ini dapat menjadi pondasi yang cukup sebagai awal untuk memasuki lingkungan ketarbiyahan tersebut.
Mengajar mahasiswa yang notabene bukan berada pada lingkungan ketarbiyahan perlu penerapan teori yang pas sebab orientasi awal mereka bukanlah menjadi seorang guru, selain itu dosen diperhadapkan pada suatu realita bahwa mata kuliah ini bertujuan untuk mendidik calon pendidik. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui konsep dalam pengajaran pendidikan agama Islam. Oleh karena itu dosen diharapkan mampu memberikan teladan yang baik dan jangan selalu beranggapan bahwa dialah yang paling benar sebab bila ini terjadi maka mereka akan berlaku sama kelak pada anak-anak murid mereka ketika mereka telah memasuki dunia pendidikan baik formal maupun informal. Ajaklah mereka menanamkan prinsip bawalah mereka kedunia kita dan antarkan dunia kita kedunia mereka (DePorter, 2001 : 6) agar mahasiswa mempunyai pola pikir bahwa murid bukanlah objek penderita, yang selalu tidak tahu apa-apa dan guru adalah makhluk terpintar didalam kelas.
Sebelum mengajar mata kuliah ini hal terpenting lain yang harus diperhatikan oleh dosen adalah mengetahui aspek-aspek yang akan dicapai dalam belajar. Menurut A.De Block ada tiga aspek yang harus dicapai dalam belajar yaitu : (1) aspek kognitif, yang mencakup pengetahuan dan kemahiran-kemahiran intelektual, (2) aspek dinamik-afektif, yang mencakup perasaan, minat, motivasi, sikap kehendak, nilai. (3) aspek sensorik motorik meliputi proses pengamatan dan gerakan-gerakan motorik (Winkel,1999:62).
Teori Gestalt memberikan beberapa prinsip belajar yang berharga yang coba kami terapkan dalam pengajaran mata kuliah Metodologi Pengajaran Agama Islam, antara lain :
  1. Manusia bereaksi terhadap lingkungan secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional, sosial dan sebagainya. Untuk prinsip ini maka mahasiswa diarahkan untuk mampu berkomunikasi dengan baik, mengedepankan kesantunan dan dilatih secara mental agar dapat berbicara didepan umum agar tidak ada rasa canggung dalam mengajar nantinya.
  2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Pada prinsip kedua ini, mahasiswa diharapkan dapat bertindak dan berbuat sesuai dengan apa yang dipelajarinya dan dari lingkungan disekitarnya serta dapat belajar dari pengalaman.
  3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan dari foetus atau bayi dalam kandungan sempai dewasa. Dalam tiapfase perkembangan manusia itu senantiasa manusia lengkap yang berkembang dalam segala aspek-aspeknya. Untuk itu mahasiswa harus di pacu untuk lebih banyak tahu hari ini daripada hari kemarin dengan cara memberikan pengertian bahwa ilmunya tidak boleh jalan ditempat tetapi harus di tambah dengan banyak membaca referensi lain di luar referensi yang di berikan di kelas.
  4. Belajar adalah perkembangan ke arah deferensial yang lebih luas. Pada prinsip ini kita mengarahkan mahasiswa untuk memecahkan masalah dengan melihat masalah itu secara keseluruhan dan kemudian bagian-bagiannya, yang dilatih adalah cara siswa menganalisis segala persoalan.
  5. Belajar hanya berhasil bila tercapai kematangan untuk memperoleh insight. Untuk itu mahasiswa diarahkan untuk memecahkan masalah didalam kelas dalam bentuk diskusi agar pemahamannya datang dari mereka sendiri.
  6. Belajar tidak mungkin tanpa kemauan untuk belajar. Dosen harus terus memotivasi mahasiswa, sebab motivasi memberi dorongan yang menggerakkan seluruh organisme.
  7. Belajar berhasil kalau ada tujuan yang mengandung arti bagi individu. Pada prinsip ketujuh ini, mahasiswa dapat diberikan pengertian bahwa mata kuliah Metodologi Pengajaran Agama Islam sangat berguna jika mereka ingin terjun ke dunia pendidikan baik formal maupun informal, dan berguna bagi mereka ketika telah berumah tangga, serta bagaimana untuk mengajarkan anak-anak mereka, agar mereka antusias di dalam proses perkuliahan.
  8. Dalam proses belajar, anak itu senantiasa merupakan suatu organisme yang aktif, bukan suatu bejana yang harus diisi, atau suatu otomat yang digerakkan oleh orang lain. Prinsip kedelapan ini merupakan acuan bagi dosen mata kuliah Metodologi Pengajaran Agama Islam untuk memberikan keleluasaan bagi mahasiswa untuk mengembangkan buah fikiran mereka, tanpa batas; dan menganggap mahasiswa sebagai partner di dalam berteori bukan sebagai makhluk yang paling tahu di kelas.
Di dalam penerapan teori Gestalt (teori lapangan) pada mata kuliah Metodologi Pengajaran Agama Islam, dosen harus menerapkan konsep bahwa belajar dirangsang dengan adanya suatu problema, masalah atau soal, agar insight dalam diri mahasiswa dapat keluar dari persembunyiannya dan mencoba mencari pemecahan masalahnya. Bagaimanakah seseorang memecahkan masalah itu. Dewey dalam Nasution (1982:47) melihat dalam pemecahan masalah itu ada 5 langkah yaitu :
  1. Menyadari adanya suatu masalah. Kita harus memahami apa masalahnya. Kita harus dapat merumuskannya, sehingga masalah itu mendapat batasan yang jelas. Selanjutnya masalah itu harus dianalisis.
  2. Memajukan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban atau jalan yang mungkin memberi pemecahan masalah itu.
  3. Mengumpulkan data atau keterangan dengan mengadakan bacaan atau mencarinya dari sumber-sumber lain seperti observasi, eksperimen.
  4. Menilai dan mencobakan hipotesis itu. Dengan keterangan-keterangan yang diperoleh ada kemungkinan salah satu hipotesis itu memberi jalan ke arah pemecahan masalah itu.
  5. Mengambil kesimpulan, membuat laporan atau berbuat sesuatu berdasarkan pemecahan soal itu.
Cara memecahkan masalah seperti diatas disebut the method of intelelligence, the method of problem solving, atau the scientific method yakni metode dengan menggunakan intelegensi, metode pemecahan masalah, atau metode ilmiah, sebab banyak dilakukan dalam pemecahan masalah-masalah ilmiah.
Menurut Nasution (2003:101), teori Gestalt atau “lapangan” mengutamakan proses, memecahkan masalah. Namun tiap proses belajar memerlukan bahan pelajaran tertentu. Namun proses dan produk tidak dapat dipisahkan.
F.     PENUTUP
Para ahli psikologi lapangan sangat mengutamakan pelajar dalam proses belajar. Individu dianggap sentral dalam proses itu. Proses belajar bukan hanya sekedar akumulasi pengetahuan, yaitu menambah suatu segmen pengetahuan  kepada pengetahuan yang telah ada. Teori Gestalt berpendapat bahwa keseluruhan lain dan lebih daripada jumlah bagian-bagiannya. Perubahan pada satu aspek akan mempengaruhi keseluruhan pribadi anak.
Dalam belajar mahasiswa tidak hanya menumpuk pengetahuan. Adakalanya tejadi “lompatan” yang disebut insight atau pemahaman/penalaran tiba-tiba. Masukan informasi baru diproses secara mental dengan informasi yang tersimpan dalam ingatan dan dapatlah terjadi insightatau pemahaman baru.
Insight ini berbeda bagi tiap individu walaupun masing-masing dihadapkan dengan informasi baru yang sama. Ini terjadi oleh sebab tiap individu mempunyai life space atau ruang hidup yang berbeda-beda. Ruang hidup terbentuk oleh keseluruhan pengalaman seseorang selama hidupnya. Life space ini mempengaruhi cara orang mempersepsi dunia sekitarnya dan dengan demikian mempengaruhi proses belajarnya.
Karena teori lapangan sangat mementingkan individu maka penganutnya cenderung menganjurkan memupuk konsep diri yang positif bagi pelajar. Konsep diri yang positif memberi pengaruh yang baik sedangkan sebaliknya konsep diri yang negatif menghalangi proses belajar. Peranan setiap pengajar adalah sedapat mungkin meningkatkan konsep diri setiap pelajar dalam tulisan ini yang di maksud adalah mahasiswa.
Menilik hal tersebut penulis berkesimpulan bahwa teori Gestalt dengan konsep insight-nya adalah suatu teori yang pas diterapkan dalam proses belajar mengajar pada mata kuliah Metodologi Pengajaran Agama Islam di Jurusan Dakwah STAIN Kendari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar